Tampilkan postingan dengan label majalah misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah misteri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Jejak Birahi Perempuan Siluman (oleh : Eddraman Hormansyah)


Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang tidak dapat dibantah lagi. Kepercayaan atas keberadaan makhluk
gaib tersebut ternyata sudah berakar sejak zaman nenek moyang di era primitif. Dan di era terkini, para siluman sering memasuki dimensi ruang dan waktu kehidupan manusia di alam nyata. Mereka menggoda, memperdaya, bahkan ingin menguasai insan yang tidak beriman lahir dan batin.
Kisah misteri berikut ini merupakan contoh nyata dari sekian banyaknya kasus yang pernah terjadi betapa di antara
manusia dan siluman dipercaya dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya.
Berikut ini sepenggal catatan hitam kehidupannya karena nyaris tergoda sesosok makhluk siluman yang dikenal
dengan sebutan

Jumat, 07 September 2012

Pesugihan Batu Peot

Namanya Yohana, warga keturunan Tionghoa. Ia adalah teman sekelasku waktu duduk di bangku SMP dulu. Orangnya ramah dan banyak disukai teman-teman yang lain. Pergaulannya tidak membeda-bedakan sesama, walaupun dia warga keturunan yang katanya eksklusif. Tidak seperti kebanyakan warga keturunan yang hidupnya mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. Tidak mau bercampur dengan warga pribumi yang hidup di sekitarnya.
ilustrasi pesugihan batu peotSeolah-oleh Yohana memberi contoh kepada warga keturunan yang lain, bahwa tak ada perbedaan yang harus dipertahankan selama pergaulan itu saling menguntungkan kedua belah pihak. Kendati dia berbeda keyakinan dengan warga lainnya, namun dia rutin tiap Idul Fitri berkeliling besilaturahmi dengan warga Muslim yang dia kenal. Banyak masyarakat memuji pergaulannya dengan sesama manusia. Dan terbukti ketika terjadi tragedi Mei 98, seluruh keluarganya selamat, bahkan dilindungi dari tindak kekerasan.
Pertemuan dengan teman sekelasku itu memang tidak sengaja aku lakukan. Ketika itu, selepas maghrib aku berniat melaminating dan memfoto copy dokumen

Senin, 16 Juli 2012

Jampi Menjadikan Wajah Berseri-Seri (oleh: Dirgo Suriansyah)

Pertemuanku dengan Hasan di Bandara Hang Nadim, Batam, beberapa waktu yang lalu, akhirnya terus berlanjut. Maklum, Hasan yang mukim di Tanjung Pinang, kini sedang merintis usaha di bidang rumah makan di Batam. Yang paling berkesan dari Hasan adalah wajahnya yang sama sekali tidak pernah berubah. Walau usia sudah menginjak kepala lima, tetapi, ia benar-benar kelihatan awet muda. Dengan kata lain, wajah Hasan sekarang sama dengan wajahnya ketika masih duduk di bangku SMA dulu.
Ketika hal itu kutanyakan, dengan nada kelakar ia pun mengatakan:
“Sebagai orang Melayu, aku tergolong taat menjalankan jampi-jampi yang
kuanggap bermanfaat.”
“Maksudnya?” Potongku cepat.
“Ya … yang bermanfaat dengan

Sabtu, 23 Juni 2012

Memperagakan Kedahsyatan Mustika Mirah Delima (oleh:Goenawan WE)

merah delima
Selama ini telinga kita sering kali mendengar kisah-kisah tentang kehebatan Mustika Mirah Delima, yang katanya harganya bisa mencapai milyaran rupiah ini. Tentu saja bila batu mustika Mirah Delima asli. Cara mengetahui keasliannya, bila batu  dimasukkan ke dalam air bisa tembus cahayanya hingga beberapa gelas. Semakin banyak gelas yang terkena bias warna merahnya, maka diyakini semakin ampuh tuah sang batu, dan tentunya harganya pun semakin terdongkrak.
Mendengar hal seperti ini Kanjeng Djoko tersenyum. “Kalau seperti itu sih mudah, Mas Gun. Mustika Mirah Delima itu bisa diperagakan jauh lebih hanya sekedar begituan,” katanya. Ia pun mengajak Misteri memperagakan keaslian Mirah Delima.
Waktu peragaan mustika Mirah Delima pun akhirnya tiba. Misteri datang bersama beberapa teman, namun oleh Khanjeng Djoko, hanya Misteri sendiri yang diperbolehkan masuk ke ruang khususnya, yang disebut Gedong Pusoko, untuk melihat langsung peristiwa ini.

Ilmu Harimau Kakek (oleh: Dawam)

ilmu harimau
Perjalanan dengan kereta api Jakarta-Blitar kali ini sungguh sangat melelahkan. Bukan hanya penumpang yang berdesak-desakkan seperti ikan tertumpuk dalam kaleng, namun juga mulai Bekasi hingga Tulungagung hujan enggan berhenti. Praktis, suasana dalam gerbong kereta api makin pengap, campur aduk antara bau keringat orang, bau pesing dari toilet yang tidak tertutup serta barang bawaan penumpang yang menyengat hidung.
Karena lelahnya, begitu tiba di rumah kakek, aku langsung ngorok hingga bangun sudah bersamaan dengan mentari bertahta indah di ufuk timur.
“Mimpi apa kamu tadi malam, Ko?” sapa kakek. Begitu aku membuka mata, kakek sudah berada di samping ranjang berderitku.
“Tidak mimpi apapun. Saya tidur sangat nyenyak, Kek. Mungkin karena lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang,” sahutku. “Apa Kakek ingin aku mimpi ketemu Nenek di alamnya sana dan Nenek titip salam buat Kakek?” sambungku dengan nada bercanda.

Cincin Pemberian Genderuwo (Oleh : Bayu Indrayanto)

Selama ini Tomi tak menyangka kalau rumah tua yang dilewatinya tiap malam sepulang kerja ternyata merupakan rumah angker yang menyimpan beribu misteri. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan pengalaman yang tak bisa dihilangkan dari ingatannya hingga hari ini.
Sebagai pegawai pabrik sablon, bagi Tomi dan kawan-kawannya sudah bukan merupakan hal yang aneh kalau tiap hari harus kerja lembur mengerjakan pesanan dari perusahaan tempatnya bekerja. Tak jarang ia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya hingga tengah malam dan setelah itu pulang ke rumah yang jaraknya lumayan jauh.
Seperti hari itu. Tomi diminta lembur oleh bosnya karena sedang banyak pekerjaan. Dengan senang hati Tomi mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa tersa hari menjelng tengah malam. Tomi berhasil menyelesaikan pekerjaaanya dan bergegas pulang setelah memasukkan semua pesanan untuk besok ke dalam bungkusan. Dikayuhnya sepeda tua peninggalan orang tuanya dengan pelan.
Sepanjang jalan yang dilewatinya terasa gelap, rupanya listrik di daerah tersebut padam. Dengan pelan sepeda tua tersebut berjalan menembus kegelapan malam. Sebetulnya hati Tomi sudah merasa tidak enak. Jalanan yang gelap ditambah suasana jalan yang sepi membuatnya miris. Tetapi rasa lelah karena seharian bekerja membuat tekadnya untuk pulang dan segera tidur semakin kuat.

Wifik Penyembuh Beragam Penyakit ( Oleh: Surya Puja Nagara)

primbon1
Akhirnya, Hasan pun menemukan kitab lusuh yang sudah berbilang waktu dicarinya. Di dalam kitab itu tertulis kata dalam huruf Arab-Melayu; … sebelumnya, ambil wudhu dan kenakan pakaian yang bersih. Kemudian, dirikanlah shalat Hajat 2 rakaat, lalu, tuliskan ayat-ayat tersebut di bawah ini dengan menggunakan jafaron emas di atas cawan putih, dan tuangkan air putih secukupnya.
Setelah tulisan larut, minum dan basuhkan ke seluruh tubuh. Lakukan selama tiga hari berturut-turut, Insya Allah mustajab.
Hari pertama; Bismillahi r-rahamnir-rahim dzalika takhfifun min Rabbikum wa rahmatun.
Hari kedua : ar-Rahmanu, dzalika takhfifun min Rabbikum wa rahmatun wa khaliqa l-insanu dla’ifan.
Hari ketiga: ar-Rahim, al-ana khaffafallahu.
Dan benar,

Kamis, 01 Maret 2012

Akibat Pesugihan Buaya Muara Cipunagara Oleh

Apabila kamu ingin kaya harta, maka kawinlah dengan anakku, nawang Sari, kamu pasti kaya raya, keluargamu terjamin. tapi pada suatu saat kamu harus ikut kami menghuni alam gaib Muara Cipunagara…..
perlahan-lahan.
“Sudah, istirahat saja dulu. Hidupmu tak akan kaya jika terus seperti ini!” Serunya kepada Sumantri.
Sesaat setelah menarik jalanya yang ternyata kosong lagi, Sumantri menghempaskan jala itu lalu duduk di samping lelaki kurus yang misterius itu. Tak ada rasa curiga sedikit pun dalam hati Sumantri. Mestinya ia berpikir bagaimana lelaki tua itu bisa datang ke delta tanpa diketahuinya.
“Maaf bila kedatangan kakek membuat kamu kaget, kisanak,” ujarnya.
“Di mana rumah kakek?” Tanya Sumantri. “Jauh tak jauh, dekat pun tidak dekat, hanya dibatasi keyakinanmu kisanak,” jawabnya membingungkan.
“Apa maksudnya saya tidak paham apa yang kakek katakan?” Tanya Sumantri lagi.
Lalu lelaki tua itu berdiri, ia menarik tangan Sumantri supaya ikut berdiri di sampingnya.
“Apa yang kamu lihat kisanak di sana!” Ujar kakek itu sambil menunjuk gundukan tanah setinggi tiga meter yang berjarak dua puluh meter di hadapannya.
“Gundukan tanah Aki,” jawabnya sesuai penglihatannya sejak dari dahulu. Si kakek terkekeh lalu berkata lagi.
“Pejamkan matamu, dan buka lagi setelah kusuruh.”

Rabu, 15 Februari 2012

DI CULIK PENGHUNI KALI AKAR

nghuni kali akar

Hampir 6 hari Udin dibawa kabur makhluk penghuni Kali Akar. Ketika ditemukan, sifat Udin berubah mirip kera dan menyerang siapa saja yang hendak menangkapnya.
Kali akar merupakan bagian dari Way Belahu, sungai yang mengalir membelah Kota Teluk betung Bandar lampung. Penduduk menyebutnya Kali akar karena di sekitar aliran sungai itu banyak ditumbuhi pohon perdu yang akarnya muncul di permukaan air. ada juga akar yang menjuntai seperti tali ayunan. akar- akar sebesar paha orang dewasa itu sangat disenangi anak-anak. Mereka biasa berdiri di atas akar itu lalu terjun ke sungai.
Sebagian orang mengatakan tempat itu angker. Memang jarang sekali tempat itu dikunjungi orang. Mereka datang ke tempat itu hanya pada saat-saat tertentu saja, seperti menjelang bulan puasa. Biasanya mereka datang untuk mandi keramas. Praktis, pada hari- hari biasa sungai itu hanya ramai oleh anak- anak setempat yang berenang.

PUNYA AJI PANCASONA ,MAKAMNYA DIGANTUNG

aji pancasona

Semasa hidupnya, orang yang dimakamkan ditempat ini dikenal sebagai tokoh sufi. Pasalnya, tokoh ini menguasai ilmu langka yang bernama Aji Pancasona. Yakni sebuah ilmu yang dapat hidup kembali ketika mati. Dengan catatan, asal menyentuh tanah. Karena itu, agar tidak hidup kembali, saat meninggal, kemudian makamnya digantung.
Di jalan Melati, Blitar, Jawa Timur, ada sebuah makam tua yang lebih dikenal dengan nama makam Gantung. Predikat yang melekat pada makam tua ini, sangat singkron dengan kondisi makam tersebut.
Pasalnya, makam ini memang dalam posisi tidak menyentuh tanah. Karena itu, masyarakat Blitar menyebutnya dengan nama, Makam Gantung. Keunikannya, tak sedikit para penjiarah yang datang ke makam Bung Karno, menyempatkan diri berjiarah ke makam gantung.
Selain mendoakan tokoh sakti yang makamnya tidak menyentuh tanah ini, mereka sengaja ingin menyaksikan keunikan dari makam itu. Apalagi, jarak makam Bung Karno dengan makam gantung, hanya terpaut sekitar satu kilometer.

RITUAL GAIB UNTUK KEKASIH TERCINTA

ritual gaib
Malin merupakan pemuda yang sangat baik dan bisa menghargai teman apalagi kaum hawa. Namun sifat baik tak selamanya dihargai manusia di zaman sekarang ini. Hidup materialistis telah membutakan mata hati sebagian orang di zaman ini. Setidaknya itulah yang dirasakan Malin yang kebetulan teman penulis.
Hanya karena belum punya pekerjaan tetap, cinta yang telah lama dirajut, kandas diterjang ombak kehidupan. Masih segar dalam ingatan Malin, akan keindahan sebuah cinta yang terjalin dengan seorang dara, sebut saja bernama Rena.
Hari-hari mereka lalui, bak dunia milik berdua nyaris tanpa permasalahan “Uda…Rena sungguh beruntung mendapatkan laki-laki seperti Uda yang sangat baik dan penuh pengertian.” Kata Rena setengah merayu.
“Uda pun merasa beruntung mendapatkan wanita seperti Rena. Sudah cantik wajahnya, keibuan lagi..” Balas Malin tak kalah romantisnya.

Kamis, 02 Februari 2012

ENAM TAHUN KELUARGAKU MELAWAN SANTET

Sebutlah namaku Bagas, itu adalah nama yang diberikan oleh seseorang yang sudahku anggap kakekku sendiri, aku tinggal bersama keluargaku di sebuah komplek
militer. di salah  satu kota di  jawa  barat,  aku adalah anak  pertama  dan  satu-satunya di
keluarga  kami, sedari  kecil kedua  orang tuaku mengajariku  hidup mandiri, dan akupun
menjalani  hidup yang tidak mudah. kaerena  ayahku  adalah  seorang  prajurit,  dan akupun sering  di tinggal  oleh  beliau  apabila  sedang  mendapat  tugas  dari  negara, sedang ibuku adalah  seorang guru honorer yang gajinya pun tidak  seberapa, saking  susahnya kehidupan kami, kunci  rumahku  dalah  ujung  garpu, memang kala itu  pangkat seorang prajurit  terbilangcepat namun dengan gaji yang pas-pasan pula sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan keluargaku, ad sebuah kisah unik yang  masih aku ingat sampai sekarang ketika  aku  masih  duduk  di  bangku  sd  ada  seorang  tetanggaku berkata “nak  kamu  kok kecil-kecil  sudah  puasa  mutih”,  lantas  akupun  tersenyum  dan  menjelaskan  bahwaaku tidak  punya  uang  untuk  membeli  lauk-  pauk. lambat laun akhirnya keberuntungan menghampiri keluarga kami, 

Minggu, 11 Desember 2011

PETUALANGAN KE PUNCAK PARA DEWA

Semilir angin malam itu terasa begitu dingin membelai wajah. Kami melangkahkan kaki di tanah berpasir Desa Ranupani. Cuaca sangat cerah, gemintang tampak berkilauan menghiasi langit yang bersih. Sementara sinar lembut terpancar dari rembulan yang membulat sempurna. Ya, sungguh cuaca yang bagus untuk memulai pendakian. Benang-benang keberanian dan asa mulai dirajut. Berani melawan rasa lelah dan dingin yang mendera. Serta asa untuk menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Ikuti perjalanan Tim Jelajah Misteri berikut ini….
Bait demi bait lagi ”Mahameru” Dewa 19 lamat-lamat mengiang di telinga saat packing perbekalan di Desa Ranupani. Desa yang berketinggian 2.200 mdpl ini memiliki suhu yang sangat dingin. Menurut penduduk setempat, suhu di tempat ini bisa mencapai minus 2 derajat celcius pada pagi hari. Ranupani merupakan pintu rimba menuju Gunung Semeru, selain jalur Perkebunan Teh Kertowono, Lumajang, yang jarang dilalui. Para pendaki yang ingin merasakan segarnya alam Gunung Semeru biasanya memulai pendakian dari Ranupani menuju Ranu Kumbolo melalui Watu Rejeng. Rombongan dari komunitas Pangrango yang berjumlah 27 orang, termasuk Misteri di dalamnya, saat itu terpisah menjadi dua. Rombongan pertama yang berangkat pukul 4 sore memilih untuk melalui jalur Gunung Ayek-Ayek. Jalur ’potong kompas’ ini jauh lebih curam dan menanjak dibanding jalur Watu Rejeng yang memang jauh dan melipir banyak bukit. Waktu yang ditempuh untuk sampai Ranu Kumbolo lewat Gunung Ayek-Ayek hanya berkisar 2,5 jam. Bandingkan dengan jalur Watu Rejeng yang bisa memakan waktu hingga 4 jam. Rombongan kedua yang berangakat pukul 8 malam memilih jalur normal, yaitu Watu Rejeng. Tak salah jika ada yang mengatakan bahwa satu jam pertama merupakan salah satu yang terberat dalam pendakian. Kemampuan fisik masih dalam tahap adaptasi. Nafas memburu tak teratur, langkah kaki pun belum stabil. Memasuki satu jam berikutnya, barulah kondisi mulai membaik. Jalur menuju Ranu Kumbolo via Watu Rejeng cukup jelas dan landai. Menyusuri lereng perbukitan, dengan kondisi kanan bukit dan kiri jurang. Sekalipun cukup mudah, banyaknya pohon tumbang dan ranting-ranting yang menghalang jalur membuat pendaki harus hati-hati dalam melangkah. Syukurlah malam itu bulan bercayaha begitu terang sehingga sangat membantu menerangi jalan setapak. Sekitar 5 kilometer perjalanan, sampailah kami di Pos Watu Rejeng. Di tempat ini terlihat tebing batu yang sangat kokoh dan menawan. Sementara di sisi kiri terhampar begitu indah bukit-bukit dan lembah yang ditumbuhi cemara. Sinar purnama membuat panorama malam itu benar-benar mengagumkan. Memasuki tengah malam, sebuah lembah yang tertutup kabut tebal terlihat di bawah sana. Itulah Ranu Kumbolo, danau cantik di antara lembah yang selalu berselimut kabut. Kendati telah terlihat, untuk menuju danau itu ternyata masih cukup jauh. Suhu yang kian dingin membuat tubuh tak kuat berlama-lama dalam diam. Kaki pun mengayuh lebih cepat menuruni bukit, memapas kabut menuju Ranu Kumbolo. Di ketinggian 2.390 mdpl dengan luas sekitar 8 ha. Ranu Kumbolo memang nampak sangat indah. Airnya yang bersih membuat danau ini menjadi sumber minum para pendaki. Ikannya pun cukup banyak, tampaknya menyenangkan sekali memancing di tempat ini. Pada pagi hari jika cuaca cerah pemandangan danau ini sungguh tak henti-hentinya menuai decak kagum. Terkadang muncul barisan burung belibis di permukaan airnya yang kian menambah damai suasana. Namun hampir sepanjang hari Ranu Kumbolo selalu berselimut kabut. Hal ini membuat suhu di wilayah ini begitu dingin menusuk tulang. Di pagi hari suhunya bisa mencapai minus enam dejarat celcius membuat embun membeku menjadi es. Malam itu kobaran api unggun di tepi Ranu Kumbolo benar-benar membuat tubuh hangat. Terasa nyaman sekali duduk santai sambil bercengkerama di tempat ini. Apalagi ditambah dengan segelas susu hangat dan makanan ringan. Canda tawa pun terlontar di tengah dinginnya selimut kabut Ranu Kumbolo. Kaki-kaki yang sudah berjalan kurang lebih 4 jam kami luruskan, tubuh pun beristirahat. Beberapa tenda telah terpasang, sebagian dari rombongan memutuskan untuk stay dan bermalam di tepi danau. Tak terasa waktu telah menunjuk pukul dua dinihari. Saatnya pendakian dilanjutkan. Tujuan berikutnya adalah Pos Kalimati. Dan untuk menuju ke tempat ini, perkiraan waktu tempuh adalah 2,5 jam. Cahaya senter mulai menyala, berusaha menembus kegelapan. Kabut yang menyungkupi danau dan sekitarnya menyebabkan jarak pandang terbatas. Jalur pendakian pun menjadi cukup sukar ditemukan, termasuk jalur menuju tanjakan yang terkenal itu. Ya, Tanjakan Cinta! Tanjakan cinta merupakan jalur menanjak yang terlampau tinggi menuju sebuah puncak bukit. Konon, siapa saja yang berhasil mendaki tanjakan ini tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, maka segala permohonannya mengenai percintaan akan terpenuhi. Sekalipun terlihat tak terlampau jauh dan tinggi, namun mendaki Tanjakan Cinta tanpa berhenti rasanya teramat sukar. Langkah kaki pastinya akan memberat karena kelelahan, nafaspun pasti memburu. Lagi pula leher rasanya juga selalu ingin menoleh ke belakang, menyaksikan Ranu Kumbolo yang begitu indah. Tiba di Tanjakan Cinta, terlihat di hadapan sebuah pemandangan yang lagi-lagi membuat hati semakin berdesir. Ya, sebuah padang savana luas yang dikelilingi perbukitan, dinamakan Oro-Oro Ombo. Padang rumput mirip sebuah mangkok berisikan hamparan rumput berwarna kekuning-kuningan. Namun pada musim-musim tertentu, rumput-rumput ini seringkali terbakar. Menyusuri jalan setapak di lereng bukit sambil menikmati panorama Oro-oro Ombo di bawah sinar purnama adalah salah satu peristiwa yang paling menarik dalam pendakian ini. Setengah jam berselang, langkah kaki mulai memasuki Cemoro Kandang, sebuah hutan cemara setelah Oro-Oro Ombo. Wilayah Cemoro Kandang juga memiliki jalur lumayan landai, sesekali sedikit menanjak dan menurun. Tak berapa lama kemudian terlihat area yang terbuka lagi inilah Pos Jambangan. Pos ini merupakan padang rumput yang banyak ditumbuhi Edelweiss, tumbuhan mentigi dan cemara. Jika cuaca cerah di pagi hari, tempat ini merupakan salah satu spot terbaik untuk melihat Mahameru yang menjulang gagah. Setelah melalui sebuah hutan, maka jalur mulai menurun menuju satu lagi padang rumput yang sangat indah, Pos Kalimati. Kalimati biasanya digunakan sebagai camp terakhir sebelum mendaki puncak Mahameru. Sekitar 500 meter dari tempat ini terdapat mata air bernama Sumber Mani. Terdapat juga pondok yang bisa melindungi pandaki dari sapuan angin. Cahaya purnama yang bersinar terang membuat wilayah Kalimati menjelang pagi buta begitu memesona. Tak lama kemudian pagi menjelang. Jarum jam sudah merapat di angka 4.30. Pantas saja udara terasa sangat dingin membeku. Sebagian rombongan pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya di Kalimati. Tepat di hadapan kami berdiri gagah sang Mahameru dengan lereng berpasirnya yang menggetarkan. Di atas sana, di bawah vegetasi antara pepohonan dan pasir, terlihat kerlap-kerlip cahaya senter. Pertanda sudah ada tim yang berangkat menuju puncak. Di jam-jam seperti ini, posisi pendaki idealnya memang telah berada di pasir terjal itu. Agar mendapatkan cuaca cerah sekaligus mengejar sunrise ke puncak Mahameru. Hanya 10 menit kami istirahat di Kalimati. Perjalanan dilanjutkan dengan membawa perbekalan seadanya. Makanan ringan, sebotol air mineral, jaket tebal, raincoat, dan kamera tentunya. Track dari Kalimati menuju puncak Mahameru tentu saja terjal dan menanjak. Segenap kekuatan fisik dan semangat pun dikerahkan demi menaiki setiap tanjakan yang ada. Satu jam mendaki, cuaca mulai berubah. Garis kekuningan dari arah timur mulai tampak. Pertanda sang surya mulai terbit menerangi bumi. Tiba-tiba dari arah puncak terlihat kepulan asap membumbung tinggi. Tak seperti biasanya, letusan yang kini lebih besar, gumpalan asapnya jauh lebih banyak. Sekilas muncul rasa takut kalau-kalau awan panasnya akan turun ke arah jalur pendakian. Niat pun kembali dikuatkan. ”Puncak bukanlah segalanya, yang terpenting adalah prosesnya,” sebuah kalimat singkat bersuara dalam batin Misteri, meneguhkan hati untuk terus melangkah dan menikmati perjalanan. Sekitar pukul enam pagi, kaki-kaki yang tersisa menjejak Arcopodo. Selain Kalimati, tempat ini juga sering digunakan pendaki sebagai camp terakhir menuju puncak. Tentu saja jarak menuju puncak lebih pendek bila dibandingkan harus mendaki dari Kalimati. Arcopodo terletak pada ketinggian 2.900 mdpl. Dinamakan Arcopodo karena dulu ada dua buah arca, Ganesha dan Dewa Wisnu. Namun arca-arca itu kini telah hilang. Terdapat beberapa tanah landai di Arcopodo yang cukup ideal untuk mendirikan tenda. Namun kondisi tanah Arcopodo tak begitu stabil dan sering longsor. Juga banyak pasir dan debu berterbangan yang mengganggu pernafasan. Sekitar 10 menit selepas Arcopodo terlihat banyak batu nisan dan batu peringatan bagi yang meninggal di Gunung Semeru. Sesaat mengingatkan agar lebih berhati-hati dalam melangkah dan bersikap. Jalur yang ditempuh kali ini jauh lebih curam dari sebelumnya, jurang menganga di kiri dan kanan. Tanah yang dipijak pun mudah sekali longsor. Begitu sampai di batas vegetasi, jalur pun kian terjal dengan sudut kemiringan hingga 60 derajat. Langkah kaki terseok, dua langkah naik, satu langkah merosot. Bahkan hanya sekali melangkah, bisa merosot jauh ke bawah. Lereng pasir Mahameru benar-benar menguras fisik dan mental. Ada sebuah pohon Cemara yang berdiri sendiri di antara pasir dan batu kerikil, namanya Cemoro Tunggal. Dari tempat ini, pemandangan sudah begitu indah menakjubkan. Jalur pendakian yang dilewati semalam terlihat jauh di bawah. Padang rumput Oro-Oro Ombo, Jambangan, dan Kalimati nampak begitu memesona. Hanya semangat dan asa yang membuat kaki masih bisa melangkah saat itu. Runtuhnya bebatuan yang diinjak dan dipegang sungguh membuat fisik drop. Embusan angin kencang menerpa tubuh, menerbangkan pasir ke udara. Dinginnya merasuk lewat telinga, membekukan pipi dan bibir. Sesaat menggoyangkan semangat untuk terus menggapai puncak. ”500 meter – Puncak Mahameru”. Hmm, papan petunjuk itu sudah terlewati satu jam silam. Namun puncak rasanya tak kunjung mendekat. Karena kelelahan kami putuskan untuk istirahat. Di timur terlihat pegunungan Argopuro dan Gunung Raung. Di barat berdiri megah Gunung Arjuno dan Welirang. Di barat tampak lautan pasir dan pegunungan Bromo. Perlahan tapi pasti pemandangan menakjubkan itu tertutup awan. Kabut pun tiba-tiba naik menyapu lereng pasir Semeru. Tak tampak apa-apa lagi kini. Hanya kabut, pasir, dan kerikil. Saatnya bergegas menuju puncak. Hari menjelang siang saat menginjakkan kaki di puncak Mahameru. Segenap rasa syukur adalah yang pertama kali teringat ketika mampu berpijak di ketinggian 3.676 mdpl, puncak tertinggi Pulau Jawa ini. Puncak yang diyakini masyarakat Hindu sebagai singgasana para dewa. Kawah Jonggring Saloko yang biasanya meletupkan asap sekitar 20 menit sekali tampak tenang. Akhir-akhir ini dia memang seperti tertidur. Penduduk Ranupani menuturkan jika Mahameru meletup rata-rata hanya sekali sehari dalam satu bulan terakhir. Dua bendera merah putih yang telah robek berkibar gagah. Menggugah rasa patriotisme dan kebanggaan sebagai anak negeri. Berdekatan dengan itu, terdapat batu peringatan Sok Hok Gie dan Idhan Lubis yang meninggal di tempat ini akibat menghirup gas beracun 38 tahun silam. Ya, kami pun harus cepat-cepat turun. Karena laju angin yang membawa wedus gembel (awan panas) dan gas beracun dari kawah Jonggring Saloko selepas siang hari akan mengarah ke puncak dan jalur pendakian. Perjalanan turun dari puncak menuju Cemoro Tunggal hingga batas vegetasi menempuh jarak yang sangat cepat. Kami berlari-lari menuruni lereng pasir yang terjal seperti bermain ski. Jalur pasir yang tadinya begitu berat ini menjelma menjadi sangat menyenangkan saat turun. Tentunya harus hati-hati dalam memilih jalur jika tak ingin tersesat atau terlempar ke jurang. Tidak lebih 60 menit, kami telah melewati batas vegetasi. Kondisi fisik yang menurun membuat kaki menjadi lemah saat berpijak turun. Kurang dari dua jam kemudian, sampailah di Pos Kalimati. Usai istirahat dan bersantap siang di dalam pondok, perjalanan dilanjutkan. Trekking dari Kalimati menuju Ranu Kombolo menjadi sangat membahagiakan hati karena terus menerus disuguhkan pemandangan alam yang sukar ditandingi keindahannya. Bunga-bunga Edelweiss tampak baru mekar menguning, cantik sekali. Tiba di Ranu Kumbolo, hari telah beranjak sore. Mudah ditebak, danau ini tetap dalam selimut kabutnya. Matahari lamban laun lenyap, bulan pun tak kunjung datang. Cuaca malam itu jauh lebih gelap dari malam sebelumnya. Perjalanan terus menyusuri perbukitan dari Ranu Kumbolo menuju Ranupani. Akhirnya mendekati pukul delapan malam, kami pun tiba kembali di desa Ranupani. Petualangan ini memang harus berakhir, namun kenangannya akan tetap terlukis dalam jiwa yang tak berkesudahan. Seabadi puncak para dewa. Foto-foto: Itong R. Hariadi & Herman Tanjung BOKS I: MAHAMERU BAPAKNYA GUNUNG AGUNG Gunung Semeru sering disebut Mahameru. Dia adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa, 3.676 meter dpl (diatas permukan laut). Terletak di antara wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan lokasi geografi antara 8 derajat celcius 06 LS den 120 derakat celcius 55’ BT. Semeru termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam kaldera Tengger, antara lain Gunung Bromo (2.392m), Gunung Batok (2.470m), Gunung Kursi (2.581m), Gunung Watangan (2.662m), dan Gunung Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu), yaitu Ranupani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, dan Ranu Darungan. Secara umum iklim di wilayah Gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan musim hujan jatuh pada bulan November – April. Suhu rata-rata berkisar antara 3 derajat celcius hingga 8 derajat celcius dibawah nol pada malam dan dini hari. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan es dan salju kecil. Semeru memiliki ragam jenis flora, didominasi pohon cemara, akasia, pinus, anggrek endernik, jenis jamuju, kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong, dan Edelweiss putih. Sedangkan fauinayang menghuni adalah Macam Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, Belibis dan lainnya. Puncak Mahameru dipercayai masyarakat Hindu sebagai singgasana para dewa, serta sarana penghubung antara bumi (manusia) dan Kayangan. Menurut orang Bali, Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada dewa-dewa Mahameru dilakukan oleh orang Bali setiap 8-12 tahun sekali. Hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari Gunung Mahameru. BOKS II: KEANGKERAN ORO-ORO OMBO Konon, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dipercaya sebagai sentral kekuatan gaib di tanah Jawa. Hampir seluruh kerajaan gaib yang berada di kawasan ini pusatnya terletak di Gunung Semeru. Tak heran, jika mulai kaki hingga puncaknya, gunung ini dikenal angker. Gunung ini juga kerap meminta tumbal. Tak sedikit para pendaki yang hilang misterius saat hendak menaklukkan puncaknya. Beberapa pesawat terbang juga ikut raib saat melintas di atasnya. Dan, hingga kini tidak pernah ada kabar beritanya. Salah satu kawasan yang dikenal angker di Gunung Semeru adalah Oro-Oro Ombo. Padang rumput mirip sebuah mangkok berisikan hamparan rumput ini dikenal penduduk Desa Ranupani memiliki aura mistik sangat tinggi, bahkan angker. Tak salah jika penduduk setempat sangat mengkeramatkan padang rumput ini. Sebagai kawasan yang terbilang angker, padang rumput ini menyimpan beragam kisah mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Salah satunya adalah pagelaran gending gaib mirip gamelan pagelaran wayang kulit. Menurut sumber Misteri, suara gamelan mirip pagelaran wayang kulit itu selalu terdengar terutama pada waktu-waktu tertentu. Diantaranya pada bulan sura, atau saat menjelang diadakannya pemilihan kepala daerah di dua kabupaten. Bunyi gending pagelaran wayang kulit itu dapat didengar oleh telinga biasa, sehingga bagi penduduk Desa Ranupani, sebagai wilayah paling dekat dengan kawasan Gunung Semeru, bunyi-bunyian yang tidak ada bentuknya itu sudah merupakan kejadian biasa. ”Masyarakat sini memang sudah tidak aneh lagi. Kalau tiba-tiba dari kawasan Gunung Semeru terdengar suara gamelan mirip pagelaran wayang, itu memang sedang ada pegelaran, tapi yang main bukan manusia melainkan mahkluk gaib,” ujar lelaki yang medok dengan dialek Jawanya ini pada Misteri. Selain bunyi-bunyian gamelan, suara orang yang seperti sedang mendalang juga ikut mewarnai pagelaran gaib tersebut. ”Pokoknya suaranya persis dalang, makanya warga sini sering menganggap kalau pagelaran itu merupakan pagelaran wayang kulit dari alam gaib,” terang lelaki berkumis, menyudahi penuturannya pada Misteri.

Minggu, 04 Desember 2011

KISAH PELAKU PESUGIHAN BUKIT BAWANG

Kisah ini dituturkan langsung oleh pelaku yang meminta nama aslinya dirahasiakan. Sebut saja namanya Tarno. Lelaki dengan seorang istri dan dua anak anak ini menetap di sebuah desa kecil yang cukup jauh di ujung Kabupaten Kubu Raya. Sebuah desa yang sepi dari hiruk pikuk, namun di tempat itulah Tarno dilahirkan dan dibesarkan sehingga dapat menghantarkannya menduduki posisi terhormat dengan menjadi seorang suami sekaligus ayah. Berikut kisah mistik yang dituturkan Tarno selengkapnya.

Meski hidup dalam keprihatinan, karena hanya mengandalkan penghasilan dari menangkap ikan, namun rumah tangga kami terbilang harmonis. Jika berselisih paham, kami selalu menempuh jalan musyawarah. Hal itu wajib kami terapkan untuk menutupi aib dan segala bentuk kekurangan yang ada dalam rumah tangga kami agar tidak terdengar oleh orang luar. Karena begitulah pesan dari para orang tua kami.

Hari demi hari aku habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Hal itu aku lakukan, selain sadar akan tanggung jawabku sebagai kepala rumah tangga, juga ingin menggapai harapan dan cita cita. Yah, mungkin dengan begitu ekonomi keluargaku dapat berubah dan aku bisa menyisihkan sedikit uang penghasilanku itu untuk masa depan anak-anakku dikemudian hari. Namun semua itu menjadi sirna, tatkala aku mulai mengenal yang namanya judi.

Berawal ketika rumahku kedatangan seorang tamu laki-laki yang ternyata adalah Wahono, sahabatku, yang juga berasal dari kampung di mana aku tinggal saat itu. Namun dia tak lagi tinggal di sana, karena beberapa tahun yang lalu, dua tahun kalau tidak salah, bersama keluarganya, Wahono pindah ke kota kecamatan untuk merubah nasib. Memang benar, dilihat dari penampilannya saja, dia tampak berbeda dari sebelumnya, lebih rapi dan perlente. Terlebih usahanya yang mengalami banyak kemajuan. Salah satunya adalah lapak ikan atau kios tempat menjual ikan. Dan maksud kedatangannya saat itu adalah untuk mengajakku bekerja sama.

"Maksudmu?" Tanyaku tak mengerti.

"Jadi begini Tar, selama ini kan aku membeli ikan langsung dari para nelayan, yang kemudian ikan tersebut aku jual kembali di lapakku. Nah, aku juga mau kau melakukan hal yang sama, menangkap ikan dan menjualnya padaku. Memang harga yang aku tawarkan tidaklah besar, namun kau bisa rutin menjualnya padaku. Karena jika kau tetap bertahan seperti itu, kapan kau bisa maju," ucap Wahono.

Aku pun tertegun sesaat. Tak dipungkiri hatiku berbunga-bunga mendengar tawaran dari sahabatku itu. Namun apa daya, aku tak sanggup menjawabnya karena aku sadar akan ketiadaanku. Yang dapat aku lakukan hanya tertunduk diam sambil menghela nafas panjang.

Melihat itu Wahono melempar simpul ke wajahku. Kemudian tangannya yang besar memegang pundakku dan meremas-remasnya.

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Masalah kapal motorkan? Kau tak usah khawatir, nanti kau bisa gunakan kapal motorku untuk menangkap ikan," ucap laki-laki berbadan besar itu.

Setelah mendapat persetujuan dari istriku, hari itu juga aku dan Wahono berangkat ke kota kecamatan, dengan membawa segudang harapan untuk suatu perubahan. Dan sesampainya di sana, aku langsung menuju rumah Wahono yang terletak di belakang pasar untuk mempersiapkan segala perlengkapan, karena malam itu juga aku langsung memulai operasi.

Hari dami hari pun aku lalui, dan tanpa terasa sudah hampir tiga bulan aku bekerja pada Wahono. Meski sangat sibuk, aku tak pernah lupa akan janjiku pada istriku untuk pulang dua minggu sekali. Namun itu aku wujudkan hanya pada bulan pertama saja, selanjutnya aku tak pernah lagi menjenguknya. Bahkan tak pernah lagi memberikan hasil keringatku pada mereka.

Aku mulai terlena dan terpengaruh pada pola hidup bebas dan keras. Bersama kawan-kawan baruku, aku mulai suka mabuk-mabukan, berhubungan intim dengan wanita nakal dan aku mulai suka berjudi. Memang untuk kebiasaan yang satu ini, membuat aku keranjingan. Tak peduli waktu dan tempat, saat sibuk maupun santai, aku manfaatkan untuk bermain berjudi bersama kawan kawanku. Entah itu di kapal motor dengan menggelar tikar, atau di pelabuhan saat kapal motorku berlabuh.

Padahal jika mau dipikir, pendapatanku selama bekerja dengan Wahono sangat memuaskan. Berbeda jauh dengan pendapatanku ketika aku masih berjualan ikan di kampungku. Yah, setidaknya jika aku sisihkan dan kumpulkan, aku bisa membeli lapak sendiri. Namun apa daya, aku telah terjebak ke dalam harapan semu, yang tanpa aku sadari perlahan-lahan telah menggerogoti kenyataan yang sesungguhnya telah aku raih.

Tiba pada suatu hari, ketika itu aku kalah banyak. Tak ada lagi uang yang tersisa di dalam dompet maupun di dalam saku celana, semuanya ludes. Demi membalas kekecewaan itu, aku nekad mencari pinjaman pada kenalan-kenalanku. Karena aku pikir bulan depan aku dapat membayarnya dari hasil keringatku, dan aku akan selalu begitu setiap akan meminjam uang dan mengalami kekalahan di meja judi.

Namun apa lacur, saat hutang semakin menumpuk, Wahono mengetahui kegilaanku dan memutuskan hubungan kerjasamanya denganku. Sehingga hidupku pun terkatung-katung, bahkan terancam karena tak sanggup membayar hutang pada kenalan-kenalanku itu.

Di tengah kebingunganku karena terus-terusan dikejar hutang, aku pun memutuskan kembali ke kampung halamanku dan menjual rumahku beserta tanahnya yang merupakan warisan satu-satunya dari peninggalan orang tuaku. Sementara istri dan anak-anak kukembalikan pada orang tuanya. Selanjutnya aku pun kembali ke kota untuk melakukan kegilaan lagi. Setidaknya ada sisa uang hasil jual rumah dan tanah untuk modalku berjudi.

Namun apes, aku kalah lagi. Sehingga saat itu aku benar-benar nekad meminjam uang pada pak Suryo, seorang rentenir yang juga merangkap sebagai kepala preman yang ditakuti di kota kecamatan itu. Tak kepalang tanggung bunga yang ditawarkan sangat besar. Meskipun demikian aku tetap saja meminjamnya. Namun karena tak sanggup membayarnya, aku pun dikejar-kejar oleh orang suruhan pak Suryo. Bahkan sampai babak belur dihajar tukang pukulnya.

Stres dan bingung itu yang aku rasakan. Ingin rasanya pulang kampung, namun aku malu, malu pada istri dan kedua anakku, terlebih malu pada mertuaku. Di saat posisiku tengah terjepit itulah, tiba tiba datang Ruslan, teman yang aku kenal di meja judi. Melihat kondisiku seperti itu dia prihatin dan menyarankan supaya aku melakukan ritual minta kekayaan pada jin penunggu Bukit Bawang.

"Apa kau sudah gila Lan. Sebigung-bingungnya aku, tapi masih bisa berpikir waras," ucapku.

"Itu hanya sebatas saran Tar. Karena aku sangat prihatin dengan kondisimu sekarang ini. Sekarang terserah kau, mau mengikuti saranku atau memilih dikejar-kejar tukang pukulnya pak Suryo," Ruslan mencoba meyakinkanku.

Aku terdiam, namun otakku tak berhenti berpikir. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Ruslan. Tapi kedengarannya sangat sulit dipercaya.

"Kau tak usah khawatir Tar. Itu tergantung bagaimana kau meyakininya. Karena sudah ada beberapa orang yang berhasil nyegik di sana," ujar Ruslan.

Setelah kemenyan sebagai alat ritual didapat, esok paginya kami pun meluncur ke kawasan Bukit Bawang yang ada di kabupaten tersebut. Satu hari kurang lebih jarak tempuhnya. Sesampainya di sana, kami pun langsung menemui pak Suyad, selaku juru kuncinya.

"Saya hanya bisa mengantarkan kamu saja. Perihal apa yang kamu lakukan nanti di atas sana, itu urusan kamu dengan penunggu gaibnya," tutur pak Suyad.

Sebelum melangkah, terlebih dahulu dirinya memberitahukan padaku bagaimana cara menggelar ritualnya, yang ternyata sangat mudah. Cukup membakar kemenyan, sembari mengucapkan apa yang diinginkan, kemudian bersemedi selama tiga hari tiga malam.

"Memang kedengarannya sangat mudah, namun cobaannya cukup berat. Selama ini hanya ada dua orang saja yang mampu menjalani semedi sampai selesai," terang laki-laki tua bertubuh kurus dan kecil itu.

Selanjutnya kami pun melangkah menuju bukit yang tak jauh di belakang rumah sang juru kunci. Kemudian mendakinya perlahan-lahan. Tak lama sampailah kami pada sebuah batu besar yang menghampar membentuk lempengan yang ukurannya sangat luas pula. Orang kampung menyebutnya batu bendera dan letaknya tepat di bagian sisi atas bukit menghadap ke perkampungan penduduk. Di tempat inilah nantinya aku akan melakukan semedi.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, konon, pada batu yang berdiri tegak tak jauh dari batu bendera pernah ditemukan rambut dan kulit kepala manusia yang menempel, milik seorang tua yang puluhan tahun melakukan tapa brata. Dan usai mengantarkanku, Ruslan dan pak Suyad segera kembali ke bawah.

Hari beranjak gelap. Tinggal aku sendiri di tepi hutan itu. Selanjutnya lepas Maghrib aku segera memulai ritual yang kuawali dengan membakar kemenyan. Sambil duduk bersila, kuucapkan keinginanku pada penguasa gaib tempat itu, kemudian bersemedi.

Malam pertama aku sama sekali tak mengalami gangguan apa pun. Hanya suara-suara binatang malam yang terdengar dan itu kuanggap hal biasa. Namun pada malam kedua, hal-hal aneh mulai aku alami. Suara tawa wanita dari dalam hutan, suara langkah kaki yang tak henti-hentinya mengitariku, dan kejadian-kejadian lain yang menyeramkan.

Namun yang membuat aku sangat takut ketika sebuah benda jatuh di atas pangkuanku. Lebih terkejut lagi saat aku merabanya ternyata sebuah kepala. Tak ayal cepat-cepat benda tersebut kubuang. Tapi aneh, ketika tanganku kembali kuletakan di atas paha, kepala tadi sudah ada lagi di pangkuanku, setelah itu hilang entah kemana. Tak ada yang kupikirkan saat itu kecuali pergi meninggalkan tempat itu. Namun ketika teringat hutang-hutangku pada pak Suryo, rasa takut pun menjadi sirna. Sehingga yang ada hanya keinginan untuk tetap bertahan.

Sampailah aku pada malam terakhir, yang merupakan bagian puncak dari usahaku itu. Tak dapat kuprediksi apa yang akan terjadi. Mengingat pak Suyad sendiri tak menceritakan pada bagian itu. Dia hanya berpesan, jika di hadapanku muncul sesuatu, utarakan langsung semua permasalahanku, namun jangan pernah membuka mata, karena aku tak akan sanggup melihatnya.

Aku pun kembali membakar kemenyan kemudian menyimpan pembungkusnya yang terbuat dari kain ke dalam saku celana. Selanjutnya aku hening. Memang luar biasa, baru sejam aku bersemedi, tiba-tiba aku mendengar suara tawa wanita dari dalam hutan yang seperti terbang mendekatiku. Tidak satu, melainkan ramai dan semakin malam semakin ramai. Terdengar pula olehku raungan binatang-binatang aneh yang menyebabkan seluruh badanku berkeringat menahan takut yang mulai merasukiku. Tak lama aku merasa seekor ular besar melilit tubuhku dan suara desisannya sangat jelas terdengar di telingaku. Jujur, keinginan untuk lari dari tempat itu muncul kembali, namun hutang-hutangku membuat aku kembali bertahan.

Tak lama kemudian, dari dalam hutan sayup-sayup aku mendengar suara deru angin yang perlahan-lahan mendekat. Kemudian menghilang bersamaan dengan keanehan-keanehan tadi. Dan suara tawa pun menggelegar di depanku, berat dan menyeramkan. Tak ayal tubuhku menggigil dan keringat dingin pun bercucuran dari lubang pori.

Seperti yang dipesankan oleh pak Suyad, aku tak berani membuka mata. Langsung saja aku utarakan maksud dan tujuanku kepada jin penguasa Bukit Bawang yang tengah berada di hadapanku itu dengan terbata-bata. Tak banyak yang kupinta saat itu, hanya meminta nomor buntut, dan makhluk itu pun menyanggupinya dengan syarat setiap malam Jumat Kliwon aku harus menyembelih seekor ayam hitam di tempat aku bersemedi. Jika tidak, dia akan mengambil kembali kekayaanku dan aku pun menyanggupinya. Selanjutnya makhluk itu lenyap entah kemana.

Sesampainya di rumah Ruslan, aku segera mengeluarkan kain tempat aku membungkus kemenyan sebelumnya. Pada kain itu tertulis empat buah angka yang nantinya harus aku pasang pada bandar kode buntut.  Benar saja, percaya atau tidak, setelah aku pasang angka tersebut ternyata keluar. Karena aku pasang besar, tak kepalang tanggung uang yang kudapat pun berlimpah. Selain aku dapat melunasi hutang-hutangku plus bunganya pada pak Suryo, aku pun bisa membeli ruko. Di situlah aku tinggal dan membuka usaha jual beli emas. Sayangnya semua yang ku miliki itu tak bertahan lama. Dikarenakan aku terlalu sibuk, sehingga lupa akan janjiku pada sang penguasa Bukit Bawang. Pada akhirnya kekayaan yang kudapat itu pun berangsur menyusut. Dan aku pun kembali pada keadaanku semula. Karena tak ada lagi yang dapat aku lakukan di kota itu, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halamnku, dan memulai kehidupan dari nol lagi bersama istri dan kedua anakku. Aku sungguh-sungguh bertobat tidak akan melakukan hal itu lagi, semoga Allah mengampuni segala dosaku.

Sumber : Majalah Misteri

LEGENDA SETAN KOBER

Pada masa Brawijaya 1 sampai turun ke 4 tahta selanjutnya, tatkala sir wingit telah merasuki tubuh makhluk hidup dan keseimbangan bathin sudah diambang keumuman, saat itulah kesaktian bentuk ilmu bagian dari kehidupan manusia hingga suatu keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang. Terciptalah zaman di mana manusia dan makhluk tak kasat mata saling berkomunikasi secara bebas. Wahyu ning zaman para Dewa, menjadikan masa kala itu disebut kejawen jawi, yang mengedepankan makna keluhuran bagi umat manusia.

Perjalanan pulau Jawa, sejak zaman sanghiyang Bangau (sebelum masa WaliSongo) seluruh peradaban manusia pada masa itu terbagi menjadi tiga golongan, Manusia, Lelembut, dan Siluman dari bangsa seleman. Dari seluruh golongan ini akhirnya terpecah menjadi dua bagian yaitu, aliran putih dan hitam. Kisah terbaginya golongan ini pada akhirnya mendatangkan peperangan hingga turun sampai ke zaman di mana WaliSongo, dilahirkan.

Tersebutlah nama dari sekian banyaknya para tokoh sakti beraliran hitam kala itu "Setan Kober" sosok setengah siluman yang banyak membawa risalah pertumpahan darah bagi seluruh umat manusia. Setan Kober, nama yang sangat melegendaris bagi seluruh aliran hitam sejak kerajaan Majapahit pertama didirikan. Bercerita tentang ilmu kesaktian, beliau belum pernah terkalahkan oleh siapapun juga pada masa kejayaannya, Setan Kober, telah menunjukkan pada dunia bahwa dirinya pernah menjabat sebagai guru besar tujuh aliran sekaligus selama 473 tahun lamanya. Di antara tujuh aliran yang dimaksud adalah, bangsa manusia, lelembut dari alam laut, bangsa jin segala penjuru alam, bangsa togog dari zaman purwacarita, bangsa siluman seleman, bangsa perkayang bumi lapis tiga dan bangsa ngahyang.

Asal usul Setan Kober, terlahir dari seorang Banaspati agung di zaman purwacarita sepuluh bernama, Raja Lautan, berasal dari keturunan siluman selemen / bangsa api. Dari hikayat yang ada, Raja Lautan, pernah dikalahkan satu kali dalam hidupnya oleh Nabiyullah Hidir AS, dimasa kejayaan Alexandria Agung. Sebuah kontemplasi yang Misteri lakukan, ternyata Setan Kober, mempunyai tempat tinggal selayaknya manusia pada umumnya, yaitu, di dalam hutan Panji, didaerah perbatasan antara Cibogo, Benda Kerep, dan pemahaman ini pernah juga tersirat dalam bukunya RA, Suladiningrat Kesepuluhan, yang berjudul "Babad Tanah Cirebon". Bercerita tentang rumah Setan Kober, hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari tulang belulang binatang dan manusia. Dan dibelakang rumahnya berdiri kokoh satu pendopo yang terbuat dari beraneka tulang macan, kujang, kerbau dan singa. Kesehariannya, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di pendopo untuk mengajarkan beragam ilmu kepada muridnya yang berasal dari beragam golongan dan bila waktu senggang, beliau banyak mengarahkan waktunya untuk menciptakan bilahan keris sakti mandraguna, dan keris buatannya sampai kini masih banyak dimiliki sebagian ahlul bathin.

Seperti halnya gambar keris diatas, keris ini buatan asli tangan Setan Kober, yang beliau berikan pada Pangeran Arya Panangsang, sebelum belaiu terbunuh oleh Jaka Tingkir, dan pada perang gerilya Indonesia, lewat sebuah hawatir akhirnya keris ini diberikan kepada pangeran Diponogoro, dan baru muncul kembali setelah sekian lama menghilang ditahun 2007, kini keris ini masih dilestarikan sebagai sarana derajat dalam pemilihan seorang pemimpin. Di masa raja Jawa, nama Setan Kober, selalu disebut-sebut sebagai orang nomor satu dunia persilatan, beliau kerap menjadi jawara pilih tanding yang banyak dimanfaatkan oleh para raja Jawa sebagai pembunuh bayaran. Bahkan dimasa Brawijaya ke-5, beliau kerap menjadi ahli strategi perang istana Majapahit, dalam mengalahkan ratusan panglima pilihan seluruh kerajaan yang ada di belahan dunia. Baru namanya surut dan akhirnya ngahyang selamanya, akibat perasaan malu setelah beliau dikalahkan oleh jawara sakti pangeran Suto Wijaya Gebang. Bagaimana kisah ini bisa terjadi ? Inilah simakannya.

Dimasa perang antara Majapahit dan Demak Bintiri, yang pada saat itu rajanya bernama Raden Fatah, dengan dibantukan 101 Waliyullah, dibawah komando panglima besar Sunan Kudus. Tujuh belas tahun, dua kerajaan ini pernah terlibat sengit dan 24 kali mereka bertemu dalam peperangan hebat, 18 kali Majapahit menyerang Demak, dan 6 kali Demak balik menyerang Majapahit. Wilayah yang pernah menjadi pertumpahan darah antara Majapahit dan Demak Bintoro, diantaranya, Magelang, Sragen, Banyu Wangi, Kudus, Klaten, Tidar, Madura, Lasem, Purwo Rejo, Yogya, Batang, Semarang dan Surabaya. Dengan strategi yang matang, Setan Kober, yang kala itu menjadi bagian kerajaan Majapahit, mulai menyebar aksinya dibeberapa pelosok desa terpencil dengan cara membunuh satu persatu para jawara Islam yang dianggapnya telah berkomplot dengan kerajaan Demak Bintoro.

Bahkan disamping lainnya Setan Kober, mulai menyusun kekuatan dengan mendatangi dedengkot aliran hitam dipenjuru pelosok desa, diantara nama aliran hitam yang pernah bergabung dengannya, Pangeran Tepak Palimanan, Pangeran Telaga Herang, Pangeran Ucuk Umum Banten, Pangeran Lodaya Indramayu, sebelum masuk Islam, Pangeran Samber Nyawa dari daerah Cuci Manah, Pangeran Kebo Kinabrang dari gunung Tangkuban Perahu, Ki Gede Jalu, dari Brebes, Ki Gede Kapetakan, Ki Gede Lewimunding, Ki Gede Tegal Gubug, sebelum masuk Islam, Ki Gede Purba Lanang, siluman air daerah gunung Tidar Jateng, Ki Janggala Wesi, dari siluman seleman, dan lainnya. Pada perang ke 17, kerajaan Islam Jawa, pernah dikalahkan dengan terbunuhnya beberapa Waliyullah, diantaranya Sunan Udung, Sunan Pajang, Sunan Beling, Sunan Persik, Sunan Odong, Sunan Rohmat, Sunan Qoyyim dan Sunan Menjangan atau Pangeran Sambar Nyawa. Namun dalam sejarah lain menyebutkan, kekalahan Islam pada waktu itu akibat bangsa Waliyullah, tidak semuanya turun ke medan laga dikarenakan mereka sedang berkabung atas wafatnya Sunan Ampel, salah satu WaliSongo, sehingga kala itu para Waliyullah, lebih banyak ta’ziah datang ke daerah Ampel.

Di lain pihak setelah kekalahan Islam mulai menjadi buah bibir dikalangan masyarakat luas, Sunan Gunung Jati, Pangeran WalangSungsang, Sunan KaliJaga, Sunan Kudus dan Sulthan Hasanuddin Banten, mulai merapatkan barisan dengan memilih diantaranya untuk mencari beberapa tokoh aliran hitam. Pada masa itu yang diutus untuk menandingi kesaktian aliran hitam diantaranya, pangeran WalangSungsang atau Mbah Kuwu Cakra Buana, Sunan KaliJaga, pangeran Arya Kemuning, Syeikh Muhyi muda Tasik, Nyaimas Gandasari, Panguragan, Syeikh Suto Wijaya Gebang, pangeran Hasanuddin Banten, Syeikh Sapu Jagat dan Syeikh Magelung Sakti.

Lewat mandat Sunan Gunung Jati, mereka bergerak dengan cara terpisah, dan lewat perjalanan panjang selama tujuh tahun lamanya, mereka akhirnya bisa menaklukkan seluruh bangsa aliran hitam. Namun hal semacam itu bukan berarti mereka mudah menandingi ilmu dedengkot para aliran hitam melainkan butuh perjuangan dan kesiapan matang, sebab dalam menjalankan tugas ini mereka juga pernah dikalahkan sewaktu duel kesaktian bersama dedengkot aliran hitam.

Seperti pangeran Arya Kemuning misalnya, beliau pernah berhadapan dengan dedengkot aliran hitam pangeran Telaga Herang, namun dalam adu kesaktian Arya Kemuning bisa dikalahkan dengan mudah, baru saat perang tanding dengan Syeikh Muhyi muda Tasik, pangeran Telaga Herang, kalah telak dan akhirnya ngahyang sampai sekarang. Juga Nyimas Gandasari, yang kala itu ditugaskan untuk menangkap pangeran Ucuk Umum, beliau kalah dalam adu kesaktian, baru tatkala Mbah Kuwu Cakra Buana, turun ke laga, pangeran Ucuk Umun, bisa dikalahkan dan akhirnya ngahyang selamanya, kisah ini terjadi di pantai Karang Bolong Banten.

Sunan KaliJaga, beliau pernah dikalahkan oleh pangeran Tepak Palimanan, dalam penaklukkan wilayah Cirebon, kekalahan Sunan KaliJaga, akibat campur tangan Prabu Siliwangi, dan baru setelah kedatangan pangeran Arya Kemuning dan Mbah Kuwu Cakra Buana, pangeran Tepak Palimanan, bisa terbunuh dengan kepala terpotong dari raganya, kisah ini terjadi dipuncak bukit Palimanan, yang bernama gunung Tugel. Kembali ke cerita asal, pertempuran antara pangeran Suto Wijaya Gebang, dengan Setan Kober, di daerah hutan Pranji, tidak bisa dihindarkan lagi, kedua musuh bebuyutan ini saling mengerahkan kesaktiannya hingga sampai 40 hari lamanya.

Dalam perkelahian panjang ini akhirnya dimenangkan oleh pangeran Suto Wijaya, sehingga Setan Kober, akhirnya ngahyang dihutan Pranji, selamanya. Kisah terkalahkannya Setan Kober, akhirnya jadi perbincangan orang banyak sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, selaku gurunya sangat khawatir. Pasalnya sejak kejadian itu pangeran Suto Wijaya, diangkat menjadi seorang pemimpin oleh seluruh bangsa gaibiah sehingga Mbah Kuwu Cakra Buana, merasa takut ilmu yang beliau berikan selama ini disalah gunakan oleh murid-muridnya.

Dalam sejarah babad tanah Jawa, ilmu pangeran Suto Wijaya Gebang, satu-satunya Ilmu paling ditakuti oelh seluruh bangsa siluman atau gaibiyah, ilmu yang dimilikinya adalah "Syahadat Majmal" dimana ilmu ini dibacakan maka seluruh gaibiyah yang ada akan mengikuti ucapan kita, bahkan dalam perang tanding melawan Setan Kober, ilmu inilah yang menjadi andalannya hingga Setan Kober sendiri, harus menerima kekalahannya dengan tubuh terbakar. Dalam kisah lain diceritan, setelah satu tahun Setan Kober, dikalahkan, pangeran Suto Wijaya Gebang, bilau akhirnya dipanggil menghadap Mbah Kuwu Cakra Buana, ‘Andika, bagaimanapun  juga dirimu telah menjadi orang yang ditakuti seluruh makhluk tak kasat mata, namun menurutku, jauhkan ilmu itu sehingga antara manusia dengan bangsa gaib ini tetap lestari selamanya, sebab kasian bagi yang lain, dengan adanya ilmu yang andika miliki sekarang, maka seluruh bangsa gaib akan punya batasan tertentu yang menjadikan mereka percaya hanya pada Andika".

Dengan patuh pangeran Suto Wijaya mengiyakannya, tanda beliau setuju dengan ucapan gurunya. Namun lain sifat lain pula kenyataannya. Ya… Benar juga ucapan Mbah Kuwu Cakra Buana, walau pangeran Suto Wijaya, sudah menerima atas mandat gurunya akan tetapi para muridnya yang berasal dari bangsa siluman dan gaib lainnya, hanya tunduk pada majikannya bukan pada orang lain sehingga walau Mbah Kuwu Cakra Buana, adalah gurunya pangeran Suto Wijaya, dengan cara sembunyi tangan akhirnya mereka tidak menerima pengakuan Mbah Kuwu Cakra Buana, dengan cara menyerang seluruh kerathon Pakung Wati Cirebon. Dalam hal ini Mbah Kuwu Cakra Buana, tidak tinggal diam, beliau langsung menghadapinya dengan pusaka "Golok Cawang" dan akhirnya seluruh bangsa gaib bisa dikalahkan dengan mudah.

Dengan kejadian ini Mbah Kuwu Cakra Buana, akhirnya menciptakan satu ilmu tandingan yaitu, Qutho Qosot, yang bertajuk: "Syetan, jin, perkayang, dedemit, lelembut dan lainnya akan tunduk atas namaku" dan sebelum kisah ini berakhir ada baiknya kita semua tahu bahwa, walau Setan Kober, telah ngahyang selamanya, namun beliau telah mempunyai satu putra sebagai generasi penerusnya yaitu "Banaspati" yang kini masih menjadi prokontra kalayak ahli bathin.

Kamis, 01 Desember 2011

ASAL MUASAL ADANYA DANA GAIB

Mengenai asal muasal dana gaib hingga kini belum terjadi kesepakatan. Namun demikian dapat diambil dua kesimpulan umum mengenai dana gaib itu, yakni dana gaib putih dan dana gaib hitam.
Di kalangan spiritualis meyakini bahwa dana gaib hitam ini sama dengan pesugihan atau ngipri. Penguasa dana ini berasal dari golongan siluman, iblis atau setan. Untuk mengambilnya, harus didahului dengan laku atau melakukan ritual-ritual  tertentu yang menyeramkan dan biasanya dilakukan di tempat terpencil pada malam hari.
Orang yang menginginkan harta gaib tidak bisa melakukan sendiri. Mereka harus memanfaatkan mediator yang kebanyakan kuncen atau juru kunci tempat-tempat yang dipercaya dihuni siluman yang bisa diajak kerjasama untuk mencari dan mendatangkan dan gaib.
Namun demikian, meski telah memanfaatkan mediator, tidak serta merta dana gaib itu akan muncul dengan sendirinya. Ada beberapa ujian yang harus dilaksanakan. Bahkan jika melenceng sedikit saja akan batal dan berakibat fatal. Beberapa di antara ujian itu adalah harus menemui siluman yang diajak kerja sama.
Yang mengerikan, kendati siluman itu sudah berganti fisik berupa hewan, tetapi bentuknya tidak seperti hewan pada umumnya. Bentuk siluman ini bisa lebih mengerikan dibanding hewan yang dimanfatkan fisiknya sebagai media. Misalnya hewan babi. Bisa saja babi siluman itu memiliki taring yang sangat panjang serta suaranya yang memekakkan telinga atau baunya sangat busuk.
Pada saat pertemuan pertama ini, jika mengalami ketakutan akan langsung gagal. Dan, jika menginginkannya lagi, harus melaksanakan ritual dari awal yang tentunya memerlukan dana lagi untuk membeli ubo rampe (sesajen) dan mahar sesuai perjanjian. Biasanya, pada ritual kedua ini, siluman yang muncul bentuk fiiknya tidak seperti silkuman yang pertama. Bisa saja, siluman yang kedua ini tampangnya lebih menakutkan. Misalnya babi raksasa yang siap memangsa manusia. Atau baunya luar biasa busuk hingga menimbulkan rasa enek ingin muntah.
Jika pada ritual yang kedua ini peminatnya bergidik, maka dinyatakan batal. Dan untuk melanjutkan harus memulai lagi ritual seperti semula. Beginilah seterusnya. Tetapi biasanya, jika peminat terlanjur nekat, yang muncul terakhir bukan lagi mahkluk menyeramkan, melainkan siluman yang berwujud manusia cantik atau tampan luar biasa. Pada tahap seperti inilah peminat langsung terpikat hingga terjadi perjanjian. Tetapi, perjanjian ini biasanya berlangsung timpang. Bagaimana tidak, siluman yang memberi harta bukan hartanya sendiri, melainkan harta curian. Sedangkan dia meminta imbalan berupa fisik maupun nyawa dari keluarga.
Memang, untuk mendapatkan dana ini, diperlukan tekad yang luar biasa besar sehingga tidak semua orang bisa melaksanakannya. Pun demikian dengan orang yang mendapatkan dana gaib hitam dan memanfatkannya untuk biaya hidupnya beserta keluarganya, kelak di kemudian hari harus memberikan gantinya. Ganti rugi ini bisa berupa istri, anak dan seluruh keturunannya. Atau sesuai dengan perjanjian.
Yang pasti, dana gaib terbanyak bukan dana gaib yang berasal dari harta kekayaan yang terdapat di alam gaib. Tapi biasanya berupa harta yang berasal dari alam nyata hanya saja telah digaibkan oleh bangsa gaib. Misalkan saja harta karun peninggalan perang dunia kedua

Selasa, 15 November 2011

ANAKKU MENJELMA JADI SEEKOR BUAYA

Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Lelaki itu semakin hari semakin menderita setelah ditinggal anak perempuannya. Anaknya yang baru berusia lima tahun itu merenggut ajal di pinggir sungai Cipunagara.
Sejak kehilangan sang anak, Dirta, si lelaki itu, selalu melamun di tepi sungai Cipunagara, dan terkadang dia bicara sendirian lalu tersenyum. Begitulah hari-hari yang dilewati Dirta semenjak empat bulan yang lalu ditinggal mati anak perempuan semata wayangnya. Rasa menyesal di hatinya membuat goncangan hebat di dalam jiwanya.
Bermula dari kemarau panjang, menjelang akhir tahun. Karena kondisi perekonomian yang sulit, banyak warga yang terpaksa makan nasi aking. Kejahatan pun semakin merebak di berbagai perkampungan penduduk.
Kebiasaan mencuri, merampok disertai penganiayaan kepada korban bukan kejadian aneh lagi ketika itu. Aku sebagai juru tulis alias sekdes cukup kewalahan menerima pengaduan dari masyarakat yang menyangkut pencurian, bakik hewan ternak maupun harta benda lainnya yang melanda warga desa. Tak terhitung pula laporan mengenai warga yang busung lapar dan terkena penyakit menular singgah di meja kerjaku yang sudah lapuk.
Begitu banyak laporan itu dan sejujurnya saja sulit untuk ditindak lanjuti mengingat kapasitasku yang hanya sebagai sekertaris desa. Namun dari semuanya, hanya ada satu laporan dari warga yang aku angap menarik untuk ditindak lanjuti, yakni tentang kematian bocah berumur lima tahun yang mati tenggelam di sungai Cipunagara ketika sedang mencari capung dengan teman-temannya.
Hari masih pagi, dan kayuh sepeda tuaku menuju rumah warga yang bernama Dirta. Ada beberapa orang hadir menyambut kedatanganku. Aku mengira jasad bocah itu langsung akan dimakamkan, tetapi setelah diperhatikan wajah-wajah yang menyambutku tampak kebingungan dan mengeluh.
“Jasadnya belum diketemukan, Pa Ulis!” Bisik salah seorang kepadaku.
“Memang kejadiannya kapan?” Tanyaku.
“Kemarin sore, menjelang maghrib,” jawabnya.
“Ada bukti atau saksi saat kejadian anak si Dirta tenggelam?” Tanyaku kepada ketua RT.
“Ada Pa Ulis, temannya, anak Ropiah. Dia menangis pulang sambil membawa sepasang sandal anak si Dirta. Dia memberitahukan kejadiannya kepada Bapaknya,” papar ketua RT.
Aku merenung sejenak, lantas aku perintahkan semua lelaki menyisir pinggiran sungai Cipunagara menuju ke hilir mumpung hari masih pagi. Aku pun turut serta mencari bersama-sama masyarakat. Tidak sejengkalpun terlewati dari tatapan mata para pencari jasad anaknya Dirta.
Rerimbunan alang-alang dan semak-semak yang tumbuh subur di pinggiran sungai Cipunagara tidak luput dari buruan pencari jasad anak perempuan si Dirta. Teriakan-teriakan memanggil nama korban menambah hiruk-pikuk suasana saat itu.
Menjelang Dzuhur, pencarian masih tetap nihil namun semangat warga masih menggebu-gebu untuk mendapatkan korban. Seingatku hampir semua lelaki yang ada di kampung Kedung Jati turun ikut mencari. Menjelang Maghrib, pencarian dihentikan.
Seluruh masyarakat berkumpul di rumah Dirta untuk bermusyawarah mencari solusi apa yang harus dilakukan guna mendapatkan kembali jasad anak perempuannya. Kalau melihat keadaan sungai Cipunangara saat itu, airnya kecil hampir tidak berarus, ini biasa tiap tahunnya bila musim kemarau, maka tidak mungkin rasanya jasad anak perempuan si Dirta sudah jauh terseret arus. Ya, mustahil sekali.
Saat kebuntuan datang, tiba-tiba salah seorang warga berkata, “Pak Ulis, bagaimana kalau kita memanggil malim buaya (pawang buaya)?”
“Boleh saja. Siapa di antara kalian yang tahu orangnya?” Tanyaku.
“Ada orangnya, tapi bukan orang desa sini. Jauh, Pak Ulis,” ucapnya.
“Dimana?” Tanyaku penasaran.
“Di Haurgeulis. Tapi bisa dipanggil kesini!” Jawabnya.
“Ya sudah, besok saja karena sekarang sudah malam,” ucapku.
Esok paginya, salah seorang kuperintahkan berangkat ke Haurgeulis. Sambil menunggu sang pawang buaya datang, yang ada kuperintahkan untuk turun kembali mencari jasad yang tenggelam. Siapa tahu sekarang sudah dapat timbul atau mengambang di permukaan air.
Sementara itu, Dirta tidak henti-hentinya menangis sambil berteriak-teriak memanggil anaknya yang tenggelam dua hari lalu. Semenjak bercerai dengan isterinya setahun yang lalu, anaknya itu memang ikut denganya, sedangkan isterinya pulang ke orangtuanya.
Sampai menjelang Dzuhur, yang kuperintahkan ke Haurgeulis belum juga datang. Aku dengan bersabar menunggu di pinggir sungai Cipunagara sambil memperhatikan orang-orang yang sedang mencari jasad anaknya si Dirta.
Memang bila musim kemarau, airnya dangkal hanya sebatas lutut hingga perut orang dewasa. Tetapi ada lokasi-lokasi tertentu yang dipercaya masyarakat di sekitar Cipunagara menyebutnya Kedung (lubang besar dibawah air) yang cukup dalam. Tempat ini adalah lokasi bersemayam makhluk halus, penunggu atau penghuni kerajaan siluman air sungai Cipunagara. Ya, sungai Cipunagara yang membentang dari selatan ke utara itu memang menyimpan mitos daerah-daerah yang dilaluinya. Mulai dari wilayah Kabupaten Sumedang, sampai ke hilir di wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang.
Mitos-mitos bermunculan seperti kisah sepasang pengantin di larang menyeberang sungai Cipunagara, atau orang diluar wilayah tersebut janga mandi di sungai itu. Dan memang, mitos itu berlaku hingga sekarang dan terbukti ada yang jadi korban.
Masyarakat sepanjang sungai ketika penumpasan G30S/PKI hampir setiap hari menguburkan mayat-mayat yang mengambang dari hulu menuju hilir, dalam keadaan tidak utuh lagi. Ada yang tangannya hilang atau kepalanya tidak ada, isi perutnya kosong dan alat vital hilang, dan banyak lagi.
Ba’da Ashar, pawing buaya yang ditunggu akhirnya datang. Aku selesai shalat Ashar di surau tidak jauh dari rumah Dirta. Sebelum terjun ke lokasi, Dirta dipanggil ke surau. Orang yang dipanggil Abah dengan keahlian pawang buayanya itu meminta Dirta untuk menceritakan awal kejadianya.
Kadang-kadang aku dan warga ikut nimbrung untuk melengkapi cerita Dirta. Sesekali pria setengah baya bertubuh kecil yang dipanggil Abah itu manggut-manggut, dengan mulut komat-kamit dan matanya dipejamkan beberapa saat.
“Dirta, anakmu ada di suatu tempat yang aman. Makan dan minum disediakan,” Ucap Abah sambil tersenyum.
Semua yang hadir saat itu senang mendengarnya.
“Tetapi anak itu bukan di alam manusia!”Demikian tegas Abah.
Suasana hening dan tegang. Apalagi, Dirta ingin segera Abah melanjutkan ucapannya.
“Anakmu ada didunia yang tidak tampak oleh mata sembarangan orang. Persisnya dia ada di alam lelembut penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” terang Abah.
“Apakah bisa diambil kembali, Abah?” Tanyaku.
“Bisa!” Jawab Abah, singkat.
“Tetapi nanti bila kita kesana. Abah minta kepada Dirta, apa yang ada di depan matamu harus diakui. Ingat itu!” Ujar Abah memperingatkan Dirta.
“Baiklah, Abah!” Ucap Dirta.
Abah melanjutkan lagi ucapannya, seraya sepasang matanya melihat orang-orang yang ikut riungan saat itu, “Abah minta seorang saksi dari pihak aparat desa sini. Apakah ada?” Tanyanya.
“Ada, Bah. Pak Ulis Supena ini!” Jawab beberapa warga serempak menunjukku.
“Pak Ulis siap jadi saksi?” Tanya Abah.
“Insya Allah siap, Bah!” Jawabku, singkat.
“Nanti kita bertiga…Abah, Dirta dan Pak Ulis berangkat ke raja penguasa Kedung Cipunagara, supaya anak Dirta dikembalikan. Tetapi seperti yang sudah Abah katakan, apapun yang kamu lihat di sana harus diakui. Mengerti, Dirta?” Abah menerangkan sambil mengingatkan kembali kepada Dirta.
Dirta mengangguk, “Ya, Bah!” Tegasnya.
Setelah semua siap, kami berangkat menuju sungai Cipunagara. Warga mengikuti dari belakang, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku sedikit tegang, juga bertanya-tanya di dalam hati, apa yang akan dilakukan sang pawang buaya ini?
Abah menyuruh yang lain agar menunggu saja di bibir sungai. Sementara aku dan Dirta disuruh turun ke air. Sang pawang dengan diapit oleh aku dan Dirta. Tangan kananku dipegang erat-erat oleh tangan kiri Abah, dan tangan kiri Dirta dipegang erat-erat oleh tangan kanan Abah.
Kami disuruh menghadap ke tengah sungai lalu memejamkan mata, dan diminta jangan sekali-kali membukanya sebelum ada perintah dari Abah.  “Jangan pula kalian menengok ke belakang!” Pesan Abah.
Entah berapa lama berlalu, kudengar Abah berucap agar kami segera membuka mata. Aneh, saat aku membuka mataku, yang di hadapanku bukan lagi air sungai Cipunagara, melainkan jalan lurus dengan bunga-bunga tumbuh di sampingnya. Indah sekali. Rumah-rumah berderet tertata rapi, bersih tidak ada sampah.
Sepanjang jalan yang kami, lalui aku tidak henti-hentinya berdecak kagum di dalam hati menyaksikan keanehan dan keindahan yang tampak di depan mata. Waktu itu kami juga berpapasan dengan sejumlah penduduk yang ramah-ramah, selalu mengangguk dan tersenyum saat berpapasan dijalan dengan kami.
Uniknya, pakaian yang dikenakan sama warnanya, hitam. Kepala mereka juga memakai ikat warna hitam pula, baik perempuan maupun laki-laki.
Kami bertiga terus saja berjalan, mengikuti Abah dari belakang. Semakin jauh melangkah semakin banyak orang kami temui, seperti layaknya memasuki pusat kota tetapi tidak kutemui kendaraan. Semua berjalan kaki. Sekali-kali Abah bersalaman, berbincang-bincang seperti yang sudah kenal sebelumnya, dengan orang yang dijumpainya.
“Pak Ulis, sekarang ini kita berada di dasar sungai Cipunagara, dan sebentar lagi kita sampai ke tempat dimana anak Dirta berada,” bisik Abah kepadaku.
Banyak sekali sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di benakku yang akan kusampaikan kepada Abah, seperti kenapa tidak keluar keringat meskipun rasanya aku merasakan berjalan ini sudah lama sekali?
Kenapa aku merasa hari itu terang di siang hari, tetapi ketika aku tengadah tidak melihat letak posisi mataharinya? Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benakku, sampai selesai tugas ini. Semoga saja kami semua selamat berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Kami berjalan agak sedikit di pelankan ketika melihat di depan ada sepasang gapura dengan dua penjaga memegang tombak dan perisai di tangannya yang kekar berotot. Pakaiannya seperti pakaian wayang orang di televisi. Kelihatannya galak dan berwibawa. Mungkin karena pengaruh postur tubuhnya yang tinggi besar, rambutnya gimbal sepunggung.
“Sampurasun, Gusti Punggawa!” Ucap Abah memberi salam sambil membungkukan badan kepada kedua penjaga pintu gerbang.
“Rampes, Abah. Ada perlu apa Abah ke sini?” Jawab salah seorang punggawa dengan suara menggema, yang sepertinya sudah mengenal Abah
“Abah kangen saja, ingin bertemu dengan paduka raja. Apakah beliau ada di istananya?” Tanya Abah.
“Ada, Abah. Kebetulan kanjeng raja baru pulang berburu, sekarang ada di paseban rempugan dengan para patih,” jawabnya.
“Ada masalah apa punggawa?” Tanya Abah.
“Hamba kurang tahu masalahnya, Abah. Lebih baik Abah masuk saja ke paseban kalau ingin menemui raja,” ucap penjaga pula sambil mempersilahkan kami masuk dengan sebelah tangannya.
Kami berjalan lagi melewati sebuah lapangan luas seperti alun-alun, sebelum akhirnya kami tiba di sebuah istana yang sangat megah dengan arsitektur mirip dengan istana-istana raja tempo dulu yang masih tersisa hingga sekarang.
Aku seperti di alam mimpi, tetapi saat tanganku kucubit terasa sakit. Dirta juga banyak diam. Mungkin benaknya sama denganku, banyak menyimpan pertanyaan tentang perjalanan ini yang belum sempat ditanyakan kepada Abah.
Kami tiba di paseban. Semua yang diruangan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada Abah, yang sepertinya sudah mereka kenal sebelumnya. Kami dipersilahkan duduk bersila setelah bersalaman.
Di kursi yang mewah dan antik, duduk seorang yang dihormati oleh bangsanya. Sosok yang kharismatik berwibawa dengan pakaian kebesaran yang bergemerlapan emas permata.
“Selamat datang di negeri kami. Ada apa gerangan Abah dan rekan-rekan sudi datang ke negeri kami ini?” Tanya sang raja.
“Sebelum Abah menjawab, lebih dahulu terimalah sembah dan sujud Abah dan teman-teman kepada yang mulia paduka raja penguasa kerajaan Kedung Cipunagara,” ucap Abah sambil membungkuk badan, lalu diikuti olehku dan Dirta.
“Diterima sembah sujud Abah. Salam sejahtera sebaliknya untuk bangsa manusia yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada bangsaku di sisi Yang Maha Kuasa Pencipta Alam Semesta,” ucap sang raja merendah, sambil tidak lepas seulas senyum menghias bibirnya.
“Terima kasih atas sambutan dan doa dari padaku raja. Terlebih dahulu Abah akan mengenalkan orang-orang yang Abah bawa, yang pertama adalah juru tulis Supena,” ujar Abah menunjuk kepadaku. “Dan ini di sebelahnya Dirta, warga Pak Ulis Supena. Abah datang kesini hanya perantara saja. Abah hanya menolong Dirta, kanjeng raja, yang lagi kesusahan. Coba ceritakan sendiri kesusahanmu Nak Dirta kepada sang raja.” Ucap Abah sambil menolek kepada Dirta supaya bicara sendiri maksud kedatangannya.
Dirta kelihatan gugup dan gelagapan saat diberi kesempatan untuk bicara sendiri. Melihat Dirta seperti itu, walau tanpa disuruh, aku yang bicara mengenai maksud kedatangannya.
“Begini, paduka raja. Hamba di sini bicara mewakili Dirta karena selaku pengurus masyarakat, hamba berkewajiban menolong masyarakat hamba yang membutuhkan pertolongan.”
“Bagus…bagus, Pak Ulis. Silahkan Pak Ulis yang bicara maksud kedatangan Dirta ke tempat hamba ini!” Ucapnya mempersilahkan aku untuk bicara.
Aku menarik nafas beberapa kali sebelum memulai. “Saat itu, dua hari yang lalu, anak perempuan Dirta sedang main dengan temannya di pinggir sungai Cipunagara. Tetapi temannya pulang mengabarkan ke warga kampung, bahwa anak Dirta terperosok ke sungai kemudian tidak timbul lagi sampai sekarang.
Begitulah maksud kedatangan hambar ke sini, ingin menanyakan apakah anaknya Dirta ada disini, Paduka? Dan sekalian dengan ijin paduka kami ingin membawa pulang kembali!” Ucapku dengan tutur bahasa yang lemah lembuh supaya jangan ada yang tersinggung.
Sebelum membahas mengenai anak perempuan Dirta, sang raja melemparkan pertanyaan ke para patih yang hadir saat itu dengan suara yang nyaring, sehingga membuat aku kaget.
“Wahai para patih, apakah ada di antara kalian yang berani-beraninya mengganggu anak manusia?” Teriaknya menggema mengisi ruangan paseban.
“Ampun gusti, hamba yang hadir di ruangan ini tidak berani melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh paduka raja, bahwa rakyat kerajaan Keduan Cipunagara dilarang mengusik apalagi membawa bangsa manusia ke negeri ini,” kata salah seorang patih.
“Pa Ulis…Abah…Dirta, kalian dengan sendiri apa yang dikatakan patihku tadi, bukan?” Ucap raja dengan suara rendah.
“Ampun, gusti! Hamba mendengarnya! Hamba kesini bukan menuduh tetapi hanya bersifat menanyakan semata, hamba tidak menuduh,” Abah menjelaskan sembari mengangkat kedua tangannya.
“Maaf beribu maaf, paduka gusti! Seperti yang sudah Abah katakan tadi, kami kesini hanya menanyakan. Kalau memang ada, terima kasih. Tetapi kalaupun tidak ada, kami haturkan terima kasih pula atas keramahtamahan, kesedian paduka raja menerima hamba bertiga datang kesini,” kataku melengkapi kata-kata Abah.
“Seperti yang sudah hamba katakan, bahwa bangsa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada bangsa kawula dan sudah menjadi ketetapan bangsa kawula selama ribuan tahun bahwa nenek moyang bangsa kawula melarang keras mengganggu manusia, apalagi memangsanya. Karena manusia makhluk yang paling mulia di hadapan Sang Pencipta.” Sabda sang raja disambut anggukan kepala oleh para patih.
Keadaan hening sejenak di paseban. Semua membisu tidak bersuara.
“Coba ingat-ingat lagi, Patih. Apakah ada laporan dari masyarakat dua hari yang lalu?” Ujar sang raja kepada para patih yang hadir, memecah kehingan.
“Ampun gusti! Hamba hanya menerima laporan dari warga Pancerkulon yang menangkap seekor anak kambing karena mengganggu tanaman sayuran dan sekarang anak kambing itu sudah ditangkap lalu hamba simpan di istal.” Ucap salah satu patih memberitahukan kepada rajanya.
“Apakah itu milikmu, Dirta?” Tanya sang raja.
“Ampun gusti. Hamba orang miskin, hamba tidak punya kambing!” Jawab Dirta, singkat.
Mendengar jawaban Dirta seperti itu, mendadak Abah jengkel. Kenapa dia tidak mendengar nasehatnya saat riungan di surau, apa yang dilihat atau dikatakan harus diakui apapun bentuknya. Tapi, Abah tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan sang raja.
Setelah berbasa-basi, kami bertiga akhirnya pamitan pulang. Kami berjalan memotong, bukan jalan yang tadi sewaktu berangkat. Kami berdua disuruh Abah menutup mata, ketika kami disuruh membuka mata kembali, kami sudah berada dipinggir sungai Cipunagara dengan air sebatas lutut kami.
Tapi kenapa bajuku tidak basah? Sungguh pengalaman yang luar biasa, dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Penyesalan yang sungguh teramat sangat, ketika Abah menyalahkan Dirta, yang tidak memegang nasehatnya sebelum berangkat.
“Dunia kita dengan dunia siluman buaya sangat berbeda. Tidak sama seperti manusia melihat manusia. Kalau wujud asli buaya tampak di permukaan air memangsa manusia, kemudian menyeretnya ke dalam air, itu yang dilihat buaya bukan wujud manusia lagi, tetapi bisa kambing, celeng, atau hewan-hewan lainnya.
Begitu pula sebaliknya pada manusia, apabila hanya dilihat dengan dua mata kita wujud mereka adalah buaya. Akan tetapi apabila manusia melihatnya dengan mata batin akan timbul keakraban sesama makhluk ciptaan yang Maha Kuasa seperti yang Pak Ulis Supena alami bersama Abah tadi.” Kata Abah panjang lebar, sebelum dia kembali ke Haurgeulis.
“Lantas, bagaimana nasib anak Dirta, Abah? Apakah jasadnya akan mengambang dan bisa kami kuburkan sebagaimana layaknya?” Tanyaku, penasaran.
“Mudah-mudahan!” Ujar Abah, datar.
Enam bulan sudah Dirta menanti penantian yang sia-sia di pinggir sungai Cipunagara, anaknya datang hanya didalam mimpi dan memberi senyuman.
“Bapak aku tidak jauh darimu. Tengoklah anakmu menjelang maghrib di Cipunagara. Pasti ada!” Pesannya.
Batinnya terpukul waktu pertama kali menunaikan pesan mimpinya. Di hadapannya ada sesuatu yang besar dan panjang sedang menantinya. Dia tak lebih seekor buaya. Buaya itu menghilang masuk ke air.
Dirta menjerit sekuat tenaga memanggil nama putrinya. Sejak itu, tiap menjelang Maghrib, Dirta duduk di pinggir sungai Cipunagara menanti anaknya. Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang meratap-ratap memangil-manggil nama anaknya.
Sampai aku mengundurkan diri jadi juru tulis karena uzur, jasad anak Dirta tidak diketemukan lagi. Bahkan Dirta sendiri menghilang entah kemana. Warga tidak mengetahui, cuma tiap menjelang malam ada bunya kecil suka menampakkan diri pada warga yang sedang mandi di sungai.

Rabu, 09 November 2011

BAJUL GILING AJIMAT SAKTI MILIK JAKA TINGKIR

Menurut Babad Jawi dan Babad Sengkala, timang atau kepala ikat pinggang Kyai Bajulgiling adalah timang sakti milik Kyai Buyut dari Banyubiru yang kemudian diberikan kepada Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Timang Kyai Bajulgiling’bersama ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit buaya itu diberikan Kyai Buyut dari Banyubiru kepada Jaka Tingkir sebagai piandel dalam pengabdiannya ke Kerajaan Demak Bintoro yang kemungkinan akan mengalami banyak hambatan, baik selama di perjalanan maupun setelah berada di Demak Bintaro.
Diceritakan dalam Babad Pengging, konon Timang Kyai Bajulgiling dibuat oleh Kyai Banyubiru dari bijih baja murni yang diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi. Dengan kekuatan gaibnya, bijih baja murni itu oleh Kyai Banyubiru dibuat menjadi dua pusaka. Satu berbentuk sebilah keris luk tujuh yang dikenal dengan nama Kyai Jalakpupon dan satunya lagi berbentuk timang (kepala ikat pinggang) yang kemudian dikenal dengan nama Kyai Bajulgiling, karena bentuk mata timang yang seperti buaya giling dengan kepala sedikit terangkat, mulut terkatup tapi kedua matanya terbuka lebar.
Kekuatan gaib yang dimiliki oleh Timang Kyai Bajulgiling ialah, barang siapa yang memakai ikat pinggang Timang Kyai Bajulgiling ini, maka dia akan kebal dari segala macam senjata tajam dan ditakuti semua binatang buas. Hal ini selain kekuatan alami yang dimiliki oleh inti bijih baja murni itu sendiri, juga karena adanya kekuatan rajah berkekuatan gaib yang diguratkan Kyai Banyubiru di seputar timang tersebut. Kemudian kekuatan ikat pinggang ber-Timang Kyai Bajulgiling beberapa kali dialami dan dibuktikan sendiri oleh JakaTingkir.
Mengenai hal ini Babad Tanah Jawi menceritkan sebagai berikut:
Jaka Tingkir konon lahir di Pengging yang penuh rahasia, yang tentunya sebuah negeri kecil yang berdiri sendiri. Di sana terdapat beberapa benda kuno dari zaman Hindu, juga sebuah makam keramat yang dinyatakan sebagai tempat peristirahatan ayah Jaka Tingkir yang bernama Kebo Kenanga alias Andayaningrat. Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukkan wayang Beber (juga dinamakan wayang Karebet), maka ia pun dinamakan Mas Karebet.
Tetapi Jaka Tingkir tidak dibesarkan di Pengging, namun di Tingkir, sebab Sunan Kudus, raja pendeta diplomat jendral Demak, telah membunuh ayahnya karena pembangkangan, dan tidak lama setelah itu ibunya pun meninggal. Keluarganya kemudian membawanya ke Tingkir, dan disana ia diasuh oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. Karena itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir.
Mengikuti saran Ki Ageng Selo, gurunya dan Sunan Kalijaga, Jaka Tingkir pergi ke Demak untuk bekerja mengabdikan diri pada Sultan Demak, dan melamar sebagai pengawal pribadi. Keberhasilannya meloncati kolam masjid dengan lompatan ke belakang tanpa sengaja, karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan diapun dijadikan sebagai kepala.
Beberapa waktu kemudian satuan itu menuntut perluasan. Seorang calon yang tak berwajah tampan (buruk rupa), bersikap tidak menyenangkan bagi panglima muda ini. Karenanya calon itu tidak diuji seperti bisa, yaitu menghancurkan kepala banteng dengan tangan telanjang, melainkan diuji kekebalannya yang disetujui pula oleh yang bersangkutan. Dan hanya dengan sebuah tusuk konde Jaka Tingkir mampu menembus jantungnya. Alangkah hebat kesaktiannya. Tapi seketika itu juga, hal ini mengakibatkan ia dipecat dan dibuang.
Kepergiannya menimbulkan rasa sedih yang mendalam pada kawan-kawannya. Dengan rasa putus asa Jaka Tingkir pulang kembali dan ingin mati saja.
Dua orang pertapa, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang (suami dari putri Bondan Kejawen atau adik Ki Ageng Getas Pendawa, kakek buyut Panempahan Senopati) tidak hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberi semangat kepadanya. Ketika Jaka Tingkir berziarah di malam hari di makam ayahnya di Pengging, terdengarlah suara yang menyuruhnya pergi ke tokoh-tokoh keramat lain, antara lain Kyai Buyut dari Banyubiru  yang selanjutnya menjadi gurunya. Demikianlah Kyai ini memberikan kepadanya azimat agar ia mendapat perkenan kembali dari Sultan. Azimat pemberian Kyai Buyut dari Banyubiru itu berupa sebuah ikat pinggang dengan timang yang matanya berwujud buaya, yang diyakini sebagai Timang Kyai Bajulgiling.
Perjalanan kembali Jaka Tingkir ke Demak dilakukan dengan getek (rakit yang hanya terdiri dari susunan beberapa batang bambu). Saat akan melewati Kedung Srengenge, Jaka Tingkir menghadapi hambatan karena adanya sekawanan buaya, kurang lebih berjumlah 40 ekor, yang menjadi penghuni dan penjaga kedung tersebut. Percaya dengan kekuatan gaib dari Timang ikat pinggang pemberian Kyai Buyut Banyubiru, Jaka Tingkir nekad mengayuhkan geteknya memasuki kawasan Kedung Srengenge.
Bahaya pun mengancam ketika sekawanan buaya menghadang dan mengitari rakitnya. Namun berkat kekuatan gaib dari Timang Kyai Bajulgiling, buaya-buaya yang semula buas beringas seketika menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada Jaka Tingkir. Bahkan keempat puluh buaya ekor buaya itu menjadi pengawal perjalanan Jaka Tingkir selama menyebrangi Kedung Srengenge dengan berenang di kiri-kanan, depan dan belakang rakitnya.
Di wilayah Demak azimat pemberian Kyai Buyut Banyubiru diterapkannya kembali. Seekor lembu liar dibuatnya menjadi gila, sehingga tiga hari tiga malam para tamtama pun tidak dapat menghancurkan kepalanya, dan bahkan dengan malu terpaksa mengaku kalah. Hanya Jaka Tingkir yang berhasil membunuh kerbau itu, yakni hanya dengan mengeluarkan azimat yang telah dimasukkan ke dalam mulut hewan itu sebelumnya. Setelah itu ia mendapatkan kembali kedudukannya yang lama.
Beberapa waktu kemudian ia menikah dengan putri ke -5 Raja (Sultan Trenggono) dan menjadi Bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bahu. Tiga tahun ia harus menghadap ke Demak, tetapi negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah dibangunnya sebuah istana….
Demikianlah sekilah kisah tentang Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, gelar setelah menjadi Raja di Pajang. Setelah dia wafat, lalu dimanakah keberadaan ikat pinggang dan Timang Kyai Bajulgiling azimat pemberian Kyai Buyut Banyubiru itu? Sebab setelah meninggalnya Jaka Tingkir, tak satu pun dari anak, menantu dan kerabat dekat Sultan Hadiwijaya seperti Pangeran Benowo, Pangeran Pangiri dan juga Sutawijaya atau Senopati pernah menyimpan Timang Kyai Bajulgiling? Demikian juga halnya dengan dua sahabat dekatnya dari Pengging, Tumenggung Wirakerti dan Suratanu.
Menurut cerita, ikat pinggang dengan Timang Kyai Bajulgiling itu tertinggal di depan makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat (masuk wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah), lupa terbawa oleh Sultan Hadiwijaya yang mengakibatkan ia terjatuh dari gajah yang dinaikinya dalam perjalanan pulang dari Tembayat ke Pajang.
Seperti diceritakan dalam Serat Kanda. Kedatangan iparnya Tumenggung Mayang memberi kesempatan kepada Senopati untuk mendapat pengikut lebih banyak lagi dari Pajang. Fakta-fakta ini pada suatu hari dalam persidangan agung di Pajang disodorkan oleh para menantu raja (Tumenggung Tuban dan Tumenggung Demak) kepada raja agar diperhatikan karena mereka berpendapat perlu segera menggempur Mataram. Meskipun sadar akan jatuhnya Pajang nanti, Sultan tidak bisa bertahan atas desakan itu, dan memerintahkan untuk mengangkat senjata. Para tumenggung menyatakan bersedia, asalkan Sultan turut serta, meskipun berada di belakang barisan.
Lebih kurang 10.000 orang prajurit dipersiapkan. Pangeran Benowo naik kuda di belakang ayahnya yang duduk di atas gajah. Di Prambanan mereka berhenti dan memperkuat pertahanan dengan meriam.
Kyai Adipati Mandaraka (Juru Mertani), yang melihat akan terjadinya pertempuran besar, mendesak Senopati agar pergi ke Gua Langse (Gua Rara Kidul) sedangkan ia sendiri akan ke Gunung Merapi untuk meminta bantuan. Setelah kembali dari Gua Langse Senopati mengumpulkan 1.000 orang prajurit, dan 300 orang di antaranya ditempatkan di sebelah selatan Prambanan. Mereka mendapat perintah, begitu terdengar suara letusan keluar dari Gunung Merapi, harus segera memukul canang Kyai Bicak dan berteriak-teriak. Sebagai panglima diangkat Tumenggung Mayang.
Pertempuran terjadi di dua tempat. Pasukan Mataram pura-pura melarikan diri. Tetapi orang-orang Pajang yang mengejarnya tiba-tiba diserang oleh pasukan Matram dari dua arah dan dicerai-beraikan. Gelap malam menghentikan pertempuran itu. Kedua belah pihak kembali ke kubu pertahanan masing-masing.
Hari itu pukul tujuh pagi, Gunung Merapi meletus di tengah-tengah kegelapan. Hujan lebat, hujan debu, gempa bumi, banjir dan gejala alam lain yang menyeramkan. Orang-orang Mataram memukul Canang Kyai Bicak. Banjir menggenangi kubu panjang yang memaksa mereka melarikan diri dalam kebingungan. Sultan terseret dalam kekacauan itu.
Selanjutnya diceritakan dalam Serat Babad Tanah Jawi. Sultan, dalam hal ini Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, yang malang dan terpaksa melarikan diri itu ingin berdoa di makam Tembayat, tetapi pintu makam tidak dapat dibuka. Raja tidak mampu membukanya sehingga ia berlutut saja di luar. Juru kunci memberikan penjelasan yang sangat buruk tentang kejadian itu. Rupanya Allah tidak lagi memberinya izin menjadi raja. Hal ini amat mengguncangkan jiwa sang raja. Pada malam hari ia tidur dalam bale kencur yang dikelilingi air, yang sangat menyegarkan.
Esok harinya perjalanan dilanjutkan, tetapi raja terjatuh dari gajahnya dan menjadi sakit karenanya. Setelah itu ia dinaikkan di atas tandu, begitulah perjalanan pulang ke Pajang amat lambat dan raja duduk terguncang-guncang di atas tandu.
Pangeran Benowo, Pangeran Pengiri, Tumenggung Wirakerti dan Suratanu yang menolong raja saat jatuh dari gajah, segera mengetahui, mengapa Sultan tidak bisa lagi mengendalikan gajah yang tiba-tiba menjadi galak, karena tidak lagi adanya ikat pinggang azimat dari Kyai Buyut Banyubiru di pinggangnya. Suratanu ingat, Sultan melepaskan ikat pinggang itu dari tubuhnya dan meletakkan di sampingnya saat berdoa di depan makam Sunan Tembayat. Suratanu meyakini ikat pinggang itu pasti lupa terbawa oleh Sultan dan masih tertinggal di depan pintu makam di Tembayat.
Dengan cepat Suratanu menggebrak kudanya kembali ke makam Sunan Tambayat. Tapi ikat pinggang itu sudah tidak ada di tempatnya. Menurut juru kunci, hilangnya ikat pinggang Sultan memberi pertanda akan berakhirnya masa kejayaannya, karena ikat pinggang itulah yang telah mengantarnya mendapatkan harkat dan martabat yang terhormat.
Banyak kisah tentang hilangnya dan keberadaan ikat pinggang bertimang Kyai Bajulgiling yang bertuah itu. Ada sebagian kisah menceritakan, ikat pinggang yang tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembayat itu diambil dan disimpan oleh juru kunci makam. Tetapi ada pula yang mempercayai ikat pinggang itu hilang secara gaib, yang hilangnya azimat itu juga diketahui dan disadari oleh Sultan.
Namun yang jelas, ikat pinggang dengan Timang Kyai Bajulgiling azimat buatan Kyai Buyut Banyubiru itu secara gaib masih tersimpan di seputar makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat. Karena itu tak heran bila sejak dahulu sampai sekarang banyak orang pintar yang berusaha mengambilnya dari alam gaib, baik untuk dirinya sendiri atau untuk kepentingan orang lain. Hal ini karena adanya kepercayaan, akan kekuatan gaib yang terkandung dalam Timang Kyai Bajulgiling yang dapat mengangkat derajat, harkat dan martabat pemilik atau pemakainya.
Meski sudah banyak sekali orang pintar yang memburu kepala ikat pinggang sakti milik Jaka Tingkir itu, namun hingga kini belum diperoleh informasi apakah sudah ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan benda keramat dari alam gaib itu.
Saat Misteri berkunjung ke lokasi Makam Sunan Tembayat di Gunung Jabalkat beberapa waktu silam, yang kebetulan ditemani oleh Mbah Diran, seorang paranormal asal dusun setempat, tidak berhasil mendapatkan gambaran gaib mengenai benda ini.
”Sepertinya ada kekuatan gaib yang sangat hebat menutupi keberadaan Timang Kyai Bajulgiling, sehingga Mbah sulat untuk melacak posisinya. Mungkin, faka ini juga yang membuat banyak orang yang memburunya sulit mendapatkan pusaka sakti ini,” ungkap Mbah Diran, yang setia menemani perjalanan Misteri.

LANGKAH GAIB DAMAI PERKARA

Manusia seringkali menghadapi perkara yang sangat pelik dalam hidupnya. Terutama manusia yang berani mengambil resiko dalam meningkatkan taraf hidupnya. Para pengusaha, pegawai, pejabat, politikus, tokoh-tokoh ternama, dan lain-lain, senantiasa berjuang keras memenuhi keinginan-keinginan duniawinya. Tentu saja hal itu baik dan bagus sepanjang dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai standar yang digariskan agama.
Persoalannya, tidak sedikit pula diantara mereka yang mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Demi mencapai tujuan, mereka tidak segan-segan melanggar rambu-rambu hukum dan agama. Korupsi, suap menyuap dan perbuatan-perbuatan batil diterobos guna memeroleh kesuksesan. Jika sudah demikian, resiko besar pun siap menghadang. Ada diantaranya terjerat hutang yang besar dan ada pula yang terjerat pasal-pasal korupsi.
Ketika menghadapi masalah akibat perbuatannya melanggar rambu-rambu hukum, mereka biasanya mengalami kepanikan luar biasa. Rasa takut perbuatan salahnya terungkap sangat menghantuinya. Bukan hanya dirinya, tetapi juga keluarganya ikut merasakan ketakutan ini. Mereka senantiasa dicekam kecemasan jika sewaktu-waktu polisi datang dan menjeratnya dengan pasal korupsi.
Begitu pula halnya bagi mereka yang terjerat hutang. Hari-harinya dicekam ketakutan akibat didatangi debt collector. Mereka khawatir harta kekayaan yang dikumpulkan selama puluhan tahun ludes hanya untuk melunasi hutang-hutangnya.
“Manusia-manusia yang menghadapi masalah seperti ini merasakan kebingungan yang sangat pelik,”  ujar Malik Ibrahim ( 42 tahun) kepada Misteri beberapa waktu lalu.
“Jerih payah selama hidupnya sirna dalam sekejap. Kekayaan yang dikumpulkan terancam ludes. Bahkan pintu penjara seolah-olah sudah di depan mata,” lanjutnya.
Malik Ibrahim menuturkan, sebenarnya orang-orang yang dalam hidupnya sengaja menempuh jalan menghalalkan segala cara sudah mengetahui perbuatannya suatu saat akan terbongkar. Tetapi biasanya mereka tidak terlalu menghiraukannya. Ketika pada akhirnya perbuatan itu terungkap, mereka benar-benar panik. Nama baik keluarga besarnya pun ikut tercemar.
Sedekah
Namun demikian, ada pula orang-orang seperti itu yang tidak terlalu khawatir dengan perkara yang membelitnya. Meskipun memiliki hutang milyaran, penggelapan pajak atau menikmati harta korupsi, tetapi hidupnya tetap tenang dan tidak merasa khawatir sedikitpun. Mereka tidak takut menghadapi penjara atau hartanya ludes untuk menutupi hutangnya.
“Orang-orang seperti ini memiliki cara khusus dalam menghadapi perkaranya. Mereka memiliki langkah gaib agar perkaranya berakhir dengan damai tanpa gangguan berarti,” kilahnya.
Malik mengambil contoh mantan Presiden Suharto. Ketika beliau dilengserkan, tuduhan korupsi datang bertubi-tubi terhadapnya. Berkas-berkas perkaranya pun sudah dikumpulkan. Tetapi hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah diajukan ke pengadilan. Bahkan perkaranya pun ditutup.
“Apa sebenarnya yang beliau lakukan?” Tanya Misteri.
“Pak Harto tergolong rajin bersedekah. Hal itu beliau lakukan sepanjang hidupnya. Baik saat masih menjadi  presiden, maupun setelah dilengserkan. Sedekah itulah yang menyelamatkan nama baik dirinya, keluarganya dan harta kekayaannya,” Jawab Malik seraya tersenyum.
Malik mengisahkan sebuah cerita bagaimana Pak Harto rutin bersedekah ke tempat-tempat ibadah, pesantren-pesantren atau yayasan anak yatim. Hal ini beliau lakukan dengan harta pribadinya dan dalam jumlah yang tidak sedikit. Bahkan ada seorang kyai sepuh yang selalu menerima sedekahnya secara rutin.
“Selain membayar zakat, memberi sedekah sebenarnya merupakan cara paling ampuh membersihkan harta kita dari hal-hal yang batil. Sekaligus menghindari kemungkinan yang buruk,”kilahnya.
“Tetapi sayangnya manusia seringkali kikir, pelit dan enggan memberi sedekah. Padahal sudah jelas harta kekayaannya ada yang diperoleh secara tidak halal, tetapi masih malas bersedekah,” lanjutnya.
Lebih jauh dikatakan, sedekah bagi orang-orang yang memiliki masalah berat hendaknya tidak tanggung-tanggung. Misalkan, seseorang memiliki total harta kekayaan 10 milyar rupiah dan sebagian dari harta tersebut diperolehnya secara tidak halal. Seandainya dia bersedekah dua setengah persen saja, hal itu berarti dia harus mengeluarkan hartanya senilai 250 juta rupiah.
“Apakah orang tersebut bersedia mengeluarkan hartanya sebanyak itu hanya untuk bersedekah?”Tanya Malik Ibrahim.
“Sedekah sebesar itu rasanya tidak mungkin,” Jawab Misteri.
“Bagaimana jika sebagian besar harta kekayaannya diperoleh secara tidak wajar? Misalkan hasil korupsi atau bisnis yang melanggar aturan agama” kata Malik  bernada hiperbolik.
Menurutnya, orang-orang yang mengumpulkan hartanya secara halal saja diwajibkan membayar zakat dua setengah persen. Maka orang-orang yang menumpuk harta secara haram semestinya mengeluarkan hartanya lebih dari itu. Apalagi jika sedang menghadapi perkara yang berat, harta yang harus dikeluarkan untuk bersedekah harusnya jangan dihitung-hitung lagi jumlahnya. Semakin besar bersedekah, kemungkinan perkara yang membelitnya akan tuntas jauh lebih besar.
“Sangat banyak tempat yang layak diberi sedekah. Misalkan, tempat ibadah, pesantren, yayasan anak yatim, anak terlantar, dompet dhuafa dan fakir miskin. Kita jangan ragu untuk beramal kepada mereka. Bilamana perlu sumbangkan separuh harta kita kepada mereka jika kita yakin separuh harta kita diperoleh secara haram,” ujarnya dengan raut tegas.
Malik mengungkapkan bahwa orang-orang yang hidupnya senantiasa berada dalam bahaya juga diharuskan gemar bersedekah. Dia memberi contoh sosok tokoh Palestina Yasser Arafat. Sepanjang hidupnya, Yasser selalu diintai musuh-musuhnya. Bahkan Yasser berhasil selamat dari upaya pembunuhan sebanyak 17 kali. Rahasianya hanya satu, yaitu kebiasaan Yasser Arafat bersedekah. Sebagai buktinya, ketika beliau wafat hampir tidak ada kekayaan berarti yang dimilikinya. Padahal dia seorang Presiden Palestina.
Menurutnya, saat ini banyak sekali orang yang sedang dilanda perkara tidak memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Mereka dilanda kebingungan dan rasa putus asa. Akibatnya pun sangat fatal. Mereka mudah terjebak bujuk rayu orang-orang yang memanfaatkan kesulitan itu.
“Biasanya mereka didatangi orang-orang atau makelar kasus yang mengaku sanggup menyelesaikan perkaranya. Kemudian mereka mengeluarkan sejumlah uang kepada makelar tersebut. Tetapi ternyata hasilnya nol besar. Mereka malah menjadi korban penipuan,” ujar Malik.
“Bahkan tidak sedikit pula dukun atau paranormal yang memanfaatkan peluang ini untuk mengeruk harta kekayaan orang yang berperkara. Dengan sejumlah mahar tertentu, para dukun mengaku sanggup menyelesaikan perkara dengan bantuan jin atau makhluk gaib. Seolah-olah ada ilmu khusus agar terjadi damai perkara. Padahal semua itu tipuan belaka. Sudah jatuh tertimpa tangga,” ujarnya menutup pembicaraan.
.

AKI TIREM CIKAL BAKAL BERDIRINYA KERAJAAN TERTUA DI JAWA

Siapakah sesungguhnya tokoh nenek moyang bernama Aki Tirem ini? Pertanyaan ini menarik sekali diajukan karena memang masih terdapat kesimpangsiuran prihal eksistensi tokoh legendaris ini. Menurut cerita rakyat Pandeglang, namanya juga dikenal sebagai Aki Luhurmulya. Bahkan, dia disebut juga sebagai Angling Dharma menurut Hindu, dan Wali Jangkung menurut Islam.
Namun demikian ada juga cerira di kalangan masyarakat yang menyebut nama Prabu Angling Dharma atau Wali Jangkung sebagai nama lain dari Dewawarman. Bahkan tokoh bernama Angling Dharma ini juga diakui berada di wilayah lain, bukan di Salakanagara.
Di zamannya Aki Tirem hanya berpredikat setingkat penghulu, bukan berpangkat raja. Tatkala sakit, sebelum meninggal dia menyerahkan kekuasaannya kepada menantunya yang bernama Dewawarman, yang jauh hari sebelumnya telah menikah dengan Nyi Pahoci Larasti, putrid Aki Tirem.
Atas pengangkatan ini semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula dengan para pengikut Dewawarman karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak.
Lalu, siapakah Dewawarman ini? Konon, dia adalah seorang yang menjadi duta keliling negaranya yang terletak di India Selatan, untuk negara-negara lain yang bersahabat seperti: kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, Cina dan Abasid (Mesopotamia), dengan tujuan mempcrerat persahabatan dan berniaga hasil bumi serta barang-barang lainnya.
Dewawarman dan rombongan berlabuh di pantai desa Aki Tirem pada awalnya dengan niat untuk mengisi perbekalan, terutama air. Namun ketika itu desa tersebut tengah dilanda keresahan karena aksi para perompak. Karena itulah pada mulanya Aki Tirem dan pasukannya berniat akan memerangi Dewawarman. Namun karena niat baiknya, Aki Tirem pada akhirnya menerima kehadiran rombongan pengembara dari India Selatan ini, bahkan penghulu desa di pantai barat Banten tersebut menjodohkan puterinya dengan Dewawarman.
Setelah tinggal menetap di desa Aki Tirem, Dewawarman beserta pengikutnya selalu berkeliling melindungi penduduk karena kampung-kampung di sepanjang pesisir itu memang sering didatangi bajak laut dan pcrompak. Sampai suatu ketika, perahu perompak datang di tempat itu dan berlabuh di tepi pantai. Para perompak itu sama sekali tidak melihat bahwa dirinya telah dikepung oleh pasukan Dewawarman yang bersembunyi dan berpencar dengan siaga penuh. Dewawarman beserta pasukannya dan pasukan Aki Tirem segera membuka serangan tanpa memberikan kesempatan kepada para perompak itu untuk mempersiapkan diri. Pcrtempuran pun terjadi.
Diceritakan, gerombolan perompak itu dapat dikalahkan. Dewawarman dan pasukannya unggul dalam pertempuran. Perompak yang mati ada 37 orang dan sisanya yang tertawan ada 22 orang. Anggota pasukan Dewawarman yang tewas ada dua orang, sedangkan anggota pasukan Aki Tirem tewas 5 orang. Semua perompak yang ditawan akhirnya mati digantung. Aki Tirem memperoleh perahu rampasan lengkap dengan barang-barang, senjata dan pcrsediaan makanan para perompak.
Kisahkan pula, setelah Aki Tirem wafat, sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa di situ dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara. Sedang isterinya, Nyi Pohaci Larasati menjadi permaisuri dengan gelar Dewi Dwani Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salakanagara.
Menurut Naskah Wangsakerta Aki Tirem adalah putera Ki Srengga, Ki Srengga putera Nyai Sariti Warawiri, Nyai Sariti Warawiri puteri Aki Bajulpakel, Aki Bajulpakel putera Aki Dungkul dari Swarnabhumi bagian selatan kemudian berdiam di Banten, Aki Dungkul putera Ki Pawang Sawer, Ki Pawang Sawer Putera Datuk Pawang Marga, Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang berdiam di Swarnabhumi sebelah utara, Ki Bagang putera Datuk Waling yang berdiam di Pulau Hujung Mendini, Datuk Waling putera Datuk Banda ia berdiam di dukuh tepi sungai, Datuk Banda putera Nesan, yang berasal dari Langkasungka. Sedangkan Nenek moyangnya berasal dari negeri Yawana sebelah barat.
Jika dipelajari lebih jauh lagi, naskah Wangsakerta yang ditulis pada tahun 1677 M menceritakan, bahwa pendatang dari Yawana dan Syangka yang termasuk ke dalam kelompok manusia purba tengahan (Janma Purwwamadhya) tiba kira-kira tahun 1.600 sebelum Saka. Kaum pendatang yang tiba di Pulau Jawa kira-kira antara 300 sampai dengan 100 tahun sebelum Saka. Mereka telah memiliki ilmu yang tinggi (Widyanipuna) dan telah melakukan perdagangan serbaneka barang. Para pendatang ini menyebar ke pulau-pulau Nusantara.
Wangaskerta menjelaskan pula: Oleh para mahakawi yang terlibat dalam penyusunan naskah Wangsakerta disebut jaman besi (wesiyuga), karena mereka dianggap telah mampu membuat berbagai macam barang dan senjata dari besi, yang lebih penting, mereka telah mengenal penggunaan emas dan perak.
Sebenarnya bukan hanya berdagang, tetapi merekapun merasuk ke desa-desa, seolah-olah semuanya milik mereka. Pribumi yang tidak mau menurut atau menghadangnya segera dikalahkan. Merekapun harus menjadi orang bawahan yang harus tunduk pada keinginan mereka.
Antara tahun 100 sebelum Saka sampai awal tahun Saka masih banyak kaum pendatang yang tiba di Nusantara dari negeri-negeri sebelah timur dan selatan India,  yang juga telah memiliki pengetahuan yang tinggi.
Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa pengambilan nama Salakanagara, atau Kotaperak, atau Argyre memang wajar dan sangat terkait dengan zaman tersebut, yang dikisahkan oleh para Mahakawi sebagai zaman besi (wesiyuga), zaman manusia di Nusantara telah mengenal penggunaan besi dan perak sebagai perkakas.
Sedangkan kaum pendatang, seperti Dewawarman dari India datang ketempat tersebut dimungkinkan untuk berdagang dan mencari perak. Mungkin ini juga yang menjadi minat mereka singgah di perkampungan pesisir Aki Tirem.
Ada juga yang mengisahkan bahwa Akti Tirem ketika digantikan Dewawarman belum wafat, namun dia sengaja mengundurkan diri dari keramaian dunia dan pergi bertapa. Dewawarman kemudian dinobatkan menjadi raja pertama Salakanagara.
Penyerahan kekuasaan tersebut terjadi pada tahun 122 M. Dan pada saat itu diberlakukan pula penanggalan Sunda yang dikenal dengan sebutan Saka Sunda.
Klan Dewawarman menjadi raja Salakanagara secara turun menurun. Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun sejak dinobatkan pada tahun 52 Saka atau 130 M. Selama masa pemerintahan dia pun mengutus adiknya yang merangkap Senapati, bernama Bahadur Harigana Jayasakti untuk menjadi raja daerah Mandala, Ujung Kulon. Sedangkan adiknya yang lain, bernama Sweta Liman Sakti dijadikan raja daerah Tanjung Kidul dengan ibukotanya Agrabhintapura. Nama Agrabhinta dimungkinkan terkait dengan nama daerah berada di daerah Cianjur Selatan, sekarang menjadi daerah perkebunan Agrabhinta, hanya karena sulit diakses, daerah tersebut seperti menjadi daerah tertinggal.
Dalam catatan sejarah, raja-raja Salakanagara yang menggunakan nawa Dewawarman sampai pada Dewawarman IX. Hanya saja setelah Dewawarman VIII, atau pada tahun 362 pusat pemerintahan dari Rajatapura dialihkan ke Tarumanagara. Sedangkan Salakanagara pada akhirnya menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara.
Selama kejayaan Salakanagara gangguan yang sangat serius datangnya dari para perompak. Hingga pernah kedatangan perompak Cina. Namun berkat keuletan Dewawarman dengan membuka hubungan diplomatik dengan Cina dan India pada akhirnya Salakanagara dapat hidup damai dan sentausa.
Selain adanya perkiraan jejak peninggalan Salakanagara, seperti batu menhir, dolmen dan batu magnet yang terletak di daerah Banten, berdasarkan penelitian juga ditemukan bahwa penanggalan sunda atau Kala Sunda dinyatakan ada sejak zaman Aki Tirem. Penanggalan tersebut kemudian dinamakan Caka Sunda. Perhitungan Kala Saka mendasarkan pada Matahari 365 hari dan Bulan 354 hari. Masing-masing tahun mengenal taun pendek dan panjang.
Loading