Rabu, 23 Januari 2013

Ular Siluman Penunggu Pasar Sukoharjo (oleh: Djoko Judiantoro)


bangunan yang tidak bisa dirobohkan
Pasar Kota Sukoharjo sudah beberapa kali direncanakan akan dipugar oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo beberapa
waktu yang silam. Namun baru tahun 2012 ini pasar kota Sukoharjo terealisasi akan dibangun bersamaan dengan beberapa pasar tradisional lainnya di seluruh Indonesia yang rencananya akan dipugar oleh pemerintah Pusat.
Selain sebagai Pasar tradisional, Pasar utama Kota Sukoharjo ini sekaligus sebelahnya dipergunakan sebagai terminal
angkutan umum dari dalam kota ke daerah pedesaan lainnya di seluruh Kabupaten Sukoharjo. Pasar tradisional ini sudah
ada sejak jaman sebelum kemerdekaan Indonesia, pasar ini menurut cerita para pini sepuh (orang tua jaman dulu) dulu pernah diresmikan oleh Presiden Soekarno.

Bahkan masyarakat saat itu menyebut Pasar Tradisional ini dengan nama pasar Bung Karno, seiring dengan perkembangan
jaman, lambat laun Pasar Tradisional Sukoharjo beralih nama menjadi pasar kota Sukoharjo. Pasar yang dahulu dipergunakan
sebagai tempat jual beli maupun tukar menukar hasil kebun dan panen bagi para pedagang oprokan kini makin lama semakin
lebih modern.
Pada bulan Maret tahun2012 sesaat setelah Pasar kota ini di bongkar akan di revitalisasi menjadi pasar tradisional lagi, Bupati Sukoharjo secara resmi mengganti lagi nama Pasar Kota Sukoharjo menjadi pasar Ir. Soekarno. Pemberian nama
baru yang dikembalikan ke nama semula dilakukan pada bulan Juni bersamaan dengan bulan Bung karno yang jatuh pada bulan itu.
Namun dalam pembangunan pasar tradisional ini ada saja ganjalan yang menghambat pengerjaannya, salah satunya
saat mengawali pembongkaran pasar tradisional ini terjadi hujan yang sangat lebat dan angin kencang yang terjadi hanya di
sekitar Pasar ini.
“Angin berhembus kencang menghempaskan apa yang ada saat itu, bahkan pohon yang semula akan dirobohkan
oleh kontraktor, tumbang dengan sendirinya akibat dari kencangnya hembusan angin di daerah itu,” kata ibu pemilik titipan sepeda
yang tak mau di sebutkan namanya.
Rumahnya yang berada tepat di belakang pasar Kota Sukoharjo dan juga warga asli daerah itu, Ibu pemilik titipan sepeda ini
setiap hari sering menyaksikan keganjilan maupun keanehan yang terjadi pada saat awal pembangunan Pasar. Tak hanya
keanehan hujan dan angin puting beliung yang datang saat pembongkaran pasar dimulai.
Bahkan semasa masih menjadi Pasar kota, keanehan itu sering kali terjadi di pasar ini. Di dalam pasar ini dulu terdapat
sebuah pohon beringin yang telah berusia ratusan tahun. Tak ada angin dan tak ada hujan pohon itu tiba tiba tumbang dengan
sendirinya, padahal selama itu pohon beringin tak menampakkan tanda-tanda layu sebelumnya.
Selain itu satu peristiwa naas juga pernah dialami salah seorang lurah pasar yang bertugas di pasar Kota Sukoharjo waktu itu.
Di sisi sebelah barat pohon beringin dulu dibangun beberapa kamar mandi umum yang dipergunakan bagi siapa saja yang
membutuhkanya. Di samping kamar mandi sebuah mushola dan sumur juga dibangun diperuntukan oleh umum.
Berhimpitan dengan mushola terdapat lahan kosong seluas 1×2 meter persegi, lahan kosong persegi lantai keramik ini dipergunakan bagi para pedagang dan pembeli untuk istirahat seusai menjalankan Sholat di Mushola. Oleh lurah pasar,
lahan kosong ini dijual kepada salah seorang pedagang yang waktu itu sangat membutuhkan tempat berjualan.
Beberapa pedagang yang mendengar kabar ini sebetulnya telah menyarankan, agar lahan kosong itu jangan sampai dijual.
Tempat itu sudah menjadi kebiasaan di gunakan sebagai tempat istirahat, namun saran dari pedagang tak dihiraukan oleh
Lurah pasar, yang paling penting dirinya mendapatkan uang dari hasil penjualan lahan kosong tersebut. Sebagai kepala pemimpin pasar, siapapun tak ada yang berani melarang dirinya menjual aset daerah yang sebenarnya bukan
hak miliknya, tapi rakus akan uang membuat Lurah pasar itu lupa akal sehatnya.
Tak selang beberapa lama kemudian setelah menjual lahan kosong itu, Lurah pasar jatuh sakit, dirinya merasa ada orang yang
mengikuti kemanapun dia pergi. Bahkan dalam mimpinya, lurah itu merasa ditemui seseorang kakek tua yang
mengenakan sorban dan pakaian serba putih berkata,
“Tanah itu bukan hakmu, kenapa kamu jual? Kamu harus merasakan buah akibat dari keserakahanmu sendiri,” katanya.
Hingga akhirnya lurah pasar tersebut meninggal dunia, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit karena tak jelas
sakitnya. Kini setelah pembangunan pasar tardisional ini dimulai, keanehan dan keganjilan masih seringkali terjadi di tempat
ini.
Kejadian aneh pada saat pembongkaran pun sempat membuat orang orang di sekitar pasar bingung. Kejadian ini berlangsung setelah pasar tradisional dirobohkan, saat pembongkaran ini pihak terkait Pemkab maupun kontraktor
sama sekali tak pernah memberi sesaji seperti pada umumnya pembangunan.
Mereka melupakan bahwa pasar sebagai tempat menghasilkan rejeki sudah semestinya harus ditempatkan sebagaimana juga mestinya.
Selama ini beberapa bangunan berupa los bagi pedagang oprokan dan toko kelontong di serambi depan
terlebih dulu telah dibongkar, menyusul kemudian terminal angkot yang berada di sisi utara pasar juga ikut dibongkar pada saat yang bersamaan. Pembongkaran yang berlangsung lebih dari sepekan ini telah meratakan bangunan pasar lama maupun
terminal angkot.
Namun beberapa bengunan ternyata masih sulit dirobohkan, bangunan lama ini tegar berdiri di tengah-tengah pasar,
meski beberapa bagian bangunan seperti atap telah terlebih dulu dibongkar para pekerja. Alat berat yang dipergunakan
untuk pembongkaran ternyata tak mampu menyentuh Mushola, kamar mandi dan sebuah sumur.
Bangunan inilah yang masih berdiri tegak di tengah-tengah pasar dan kenapa bangunan ini tak bisa dirobohkan? Kejadian
sulitnya merobohkan bangunan ini terkait dengan peristiwa pada saat pembongkaran sisa bangunan pasar yang terdiri dari tiga bangunan itu. Selama ini pembongkaran pasar yang dilakukan pihak Pemkab selalu
menggunakan alat berat, dikarenakan tenggang waktu kontrak pembangunan pasar dari Pemkab kepada kontraktor tak lebih dari empat bulan saja, hingga pasar harus segera diratakan dengan tanah agar pihak kontraktor bisa segera memulai
pembangunanya. Tapi alat berat yang digunakan membongkar tiga bangunan itu tak bisa jalan saat akan merobohkan bangunan masjid, sumur dan bekas kamar mandi, meski ketiga bangunan ini hanya tersisa tembok-temboknya saja. Operator alat berat merasa aneh dengan kejadian ini, alat yang sebelumnya lancar di gunakan merobohkan
bangunan lain kini macet saat akan merobohkan ketiga bangunan itu. Namun saat alat berat ini diarahkan ke
beberapa bangunan lainya ternyata juga lancar-lancar saja. Keanehan ini semakin menjadi-jadi saat sang operator alat berat
tiba-tiba meloncat turun sambil berteriak-teriak,
“Aku takut, aku takut ada hantu” teriaknya membuat siapa saja bingung,” kenang Tumi (36), pedagang buah yang melihat peristiwa itu pada saat kejadian.
Operator alat berat lari tunggang langang kemudian mencegat bis angkutan umum terus balik ke rumah. Sesampainya di rumah, orang tua si operator alat berat meninggal dunia tak diketahui sebab musababnya.
Kejadian ini diketahui para pekerja yang saat kejadian itu beberapa orang pekerja mengikuti operator sampai ke rumah, karena takut terjadi apa apa dengan peristiwa siang itu.
Salah seorang anak indigo yang mampu melihat siapa penunggu dan apa yang ada di tempat itu mengatakan, “Tempat itu dijaga seorang kakek tua tinggi besar mengenakan sorban dan pakaian putih, selain kakek
seekor ular yang sangat besar juga ada di tempat itu.” ujar Putra (11), anak indigowarga Sukoharjo.
“Kalau mau merobohkan tempat itu terlebih dulu harus kulo nuwun (permisi). Selama ini mereka (pekerja) tak mempedulikan lagi dengan apa yang sudah ada sebelumnya di tempat itu. Dianggapnya mereka itu tidak ada,” keluh Putra
Loading