Senin, 05 November 2012

Penghuni Gaib Sekolahan (oleh: Anggita Alfiani)

Semburat sinar mentari mulai menyapa bumi dan isinya. Diiringi dengan kicauan burung yang saling bersahutan. Sungguh
senandung pagi yang indah. Seindah hati Rara yang hari ini akan memulai hari pertamanya menduduki bangku SLTP favorit
yang ia idam-idamkan selama ini.
“Mama, ayo buruan. Rara udah telat nih. MOS-nya kan mulai pukul 06.30. Berarti Rara harus udah sampai sekolah 15 menit sebelum MOS di mulai,” ujar Rara begitu semangat.
“Iya Ra, Mama tadi habis pakein popok adik. Ya udah, ayo kita berangkat,” sahut Mamanya. Mereka lalu menyetop angkot yang menuju sekolah itu. Setelah sampai di sekolah itu, Rara langsung bergabung dengan teman-teman barunya. Kebetulan

ada beberapa teman SD-nya yang juga masuk sekolah ini sehingga Rara tidak terlalu merasa asing.
Setelah bel sekolah berbunyi, seluruh murid kelas satu berkumpul di lapangan.
Mereka mendapat pengarahan dari kepala sekolah dan ketua pelaksana Masa Orientasi Siswa (MOS).
Saat sedang diberi pengarahan, Rara sekilas melihat ke barisan pria. Dia sedikit tertegun. Di situ ada pria memakai seragam
hitam-hitam. Dia heran. Harusnya hari ini berseragm putih-putih. Rara ingin melihat wajahnnya, namun pria itu selalu menunduk.
Kalau kakak kelas sampai melihat, dia pasti di hukum, ucap Rara dalam hati. Lalu dia berbisik ke Vina, temannya yang berdiri di
dekatnya. “Eh, kamu lihat cowok itu di sana.
Dia kok pakai baju serba hitam sih? Apa nanti tidak dihukum?”
Vina mencari pria yang dimaksud Rara. Namun ia tidak melihatnya. “Cowok yang mana Ra? Sejauh mata aku melihat, semuanya pakai seragam putih putih.”
Rara pun kembali melihat ke arah pria hitam tadi. Dia terkejut. Ternyata cowok itu sudah tidak ada! Selesai pengarahan, murid-murid
dibubarkan. Mereka menuju kelas sementara yang sudah ditetapkan oleh panitia MOS.
Seharian itu diisi oleh berbagai kegiatan MOS. Mulai dari baris berbaris, perkenalan setiap ruangan di sekolah, guru guru bidang
studi, hingga penjaga kantin dan satpam di sekolah itu. Seluruh penjuru yang ada di sekolah itu diperlihatkan kepada semua
murid baru.
Sampai akhirnya mereka memasuki ruangan UKS. “Adik-adik, ini adalah ruang UKS sekolah kita. Disini adalah markas
daripada kakak-kakak Palang Merah Remaja kalian. Nah, kalau dari kalian ada yang berminat untuk mengikuti ekstrakulikuler PMR, ruangan ini akan menjadi sahabat kalian,” ucap kakak pemandu itu.
Rara tak hentinya mengamati secara detail setiap bagian dari ruang UKS tersebut. Di situ ada foto kakak kelas pada saat
mengikuti lomba PMR, foto saat membuat tandu dan lainnya. Saat Rara sedang asik mengamati, tiba-tiba ia mencium bau anyir
seperti bau darah. Rara sontak menutup hidungnya. “Vin, bau apa sih ini?” bisik Rara
kepada Vina.
“Iya , seperti bau amis. Mungkin karena d isini banyak peralatan medis kali,” jawab Vina.
Rara mengangguk. Ia pun sempat berpikir seperti itu. Setelah dari ruang UKS, mereka semua kembali ke kelas. Setelah
semua kegiatan MOS hari itu djalani, muridmurid dipersilahkan untuk pulang. MOS masih berjalan selama dua hari ke depan.
Rara menunggu mamanya di pos satpam. Di situ sedang tidak ada satpam yang berjaga, karena sekarang jam makan siang. Mungkin
mereka sedang istirahat, pikir Rara.
Saat sedang asyik menunggu mamanya, datang seorang satpam. Namun satpam ini bukan satpam yang diperkenalkan oleh kakak
pemandu saat berkunjung ke pos ini. Lalu satpam itu duduk di bangku dalam. Ia selalu menunduk, mukanya datar sekali, sedikit
pucat. Rara menyapanya, “Permisi ya Pak, aku numpang duduk, lagi nunggu dijemput mama.” Satpam itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Rara. Tertera nama Sutoyo pada tanda pengenalnya.
Tidak lama kemudian mamanya datang. Rupanya mama harus mengurus adik dulu sehingga terlambat. Rara tersenyum dan
tidak mempersoalkan hal itu. Sebelum meninggalkan pos satpam, Rara menoleh ke arah satpam tadi untuk sekedar berterima
kasih dan pamitan. Namun satpam itu tidak ada.
“Loh Pak satpamnya kemana?” cetus Rara.
“Satpam? Dari tadi tidak ada orang di situ,” sahut mamanya dengan heran.
Sampai di rumah, Rara menceritakan apa yang tadi ia alami di sekolahnya. Mamanya tertegun, ia seperti bisa merasakan apa yang
Rara rasakan. Namun ia berusaha untuk mengalihkan perhatian Rara.
“Itu cuma kebetulan saja Sayang. Mungkin juga cuma halusinasi kamu. Sudah sekarang makan
yang banyak, terus tidur ya…”
Tapi semua terasa aneh buatku, gumam Rara saat ia sedang tiduran di kasur.
“Vina…Vina, tolong aku dikejar orang gila!” jerit Rara di koridor sekolah.
Entah dari mana orang gila itu berasal. Saat Rara memasuki gerbang sekolah tadi, tiba-tiba orang gila itu sudah berada di belakangnya dengan pakaian compang-camping dan luka seperti luka bakar di wajah dan tangannya Orang gila itu terus mengejarnya. Rara lantas memasuki sebuah ruangan dan menguncinya dari dalam. Ia lalu meringkuk di sudut ruangan.
Ia terlihat kelelahan setelah berlarian sepanjang koridor sekolah tadi. Ia kesal karena tidak ada satupun yang
menolongnya. Apakah mereka tidak melihat orang gila itu? Perlahan Rara mengamati ruangan yang terlihat seperti ruang UKS. Tapi terasa berbeda. Warna dindingnya seperti sudah kusam. Penuh lumut dimana-mana. Tempat tidurnya juga berubah menjadi tempat tidur usang. Seprainya kusam.
Rara kemudian berjalan melihat lihat foto yang terpajang. Disitu tertera tulisan: LOMBA PMR ANTAR SLTP se-JAKARTA SELATAN. Kalau ini bukan ruang UKS mengapa ada foto lomba PMR? gumam Rara. Padahal waktu kemarin berkunjung kesini,
ruangannya masih bagus. Rara terus mengamati satu persatu isi ruangan. Semuanya benar-benar seperti benda antik.
Lalu Rara menghampiri meja dekat pintu.
Disitu ada sebuah buku tebal bertuliskan “Absensi anggota PMR tahun ajaran
1989/1990”.
“Loh kok ada disini? Ini kan buku absensi tahun 89? Pikir Rara. Dia lalu membawa buku absen itu keluar. Mungkin ini arsip untuk
pembina PMR, ujarnya dalam hati. Rara lalu membawa buku itu dan ingin membuka pintu
yang tadi di kuncinya. Namun Rara kesulitan untuk membuka kunci itu.
“Tidak bisa! Aduuhh.. bagaimana ini? Tadi sepertinya gampang sekali ketika aku kunci. Kenapa sekarang jadi susah dibuka? keluh Rara panjang-pendek. Akhirnya ia pasrah. Rara sudah kehabisan tenaga untuk membukanya.
Rara terus melihat keluar jendela, barangkali ada teman atau guru yang lewat untuk menolongnya.
Benar saja, tak lama kemudian segerombol wanita lewat. Sepertinya mereka kakak kelas, karena Rara tidak mengenal
wajahnya sama sekali.
Rara kemudian berteriak. Anehnya, suaranya tidak keluar sama sekali! Lalu ia mencoba berteriak lagi,
namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya. Rara lalu ke dalam mencari benda keras untuk memecahkan
kaca jendela itu. Rara menemukan vas bunga. Segera ia ambil dan melemparkannya ke kaca jendela. Namun Rara sangat terkejut
karena kaca itu tidak pecah!
Rara bingung, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ada apa ini? ucapnya dalam hati. Rara lantas menangis bingung. Perlahan
ia mencium bau anyir di ruangan itu. Rara hampir mual karena tidak tahan mencium baunya. Dengan sekuat tenaga ia bangkit lalu
kembali melemparkan vas bunga. Seperti tadi, meski mengenai kaca jendela, namun
kacanya tidak pecah.
Dalam kondisi putus asa, Rara terus berteriak-teriak meski suaranya tidak terdengar sama sekali. Tidak lama
kemudian melintas pria berpakaian serba hitam yang dilihatnya saat upacara hari
pertama MOS. Laki-laki itu lewat di depan ruang UKS dengan cara meunduk. Rara kembali berteriak. Sepertinya laki-laki itu
mendengarnya. Dia berhenti dan perlahan menengok ke arah Rara.
Rara sangat berharap pria itu dapat menolongnya. Namun Rara histeris saat melihat wajah pria hitam itu. Matanya merah menyala,
mukanya penuh luka bakar yang melepuh. Pria hitam itu menyeringai ke arah Rara. Ia pun menjerit histeris dan tersadar dari
tidurnya. Mendengar jeritan Rara, mamanya masuk ke kamar dengan tergesa.
“Rara, ada apa? Kenapa kamu teriak- teriak begitu? Ada apa sayang?” ucap Mama panik.
Rara langsung memeluk mamanya dan menangis. Ternyata itu semua hanya mimpi. Saat ia melihat jam dinding menunjukkan
pukul 17.30. Ia baru ingat kalau tadi ia tidur siang, namun ia tetap menangis di pelukan mamanya. Tubuhnya basah penuh peluh.
Setelah tenang, Rara menceritakan semua yang terjadi dalam mimpinya. Ia terlihat
sangat ketakutan.
Rara menjadi takut untuk berangkat sekolah esok hari. Mamanya berusaha menasihatinyaa bahwa itu hanya
bunga tidur, itu semua tidak nyata. Tapi Rara merasa semua seperti nyata. Esok paginya Rara terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Ia bahkan tidak mau sarapan. Padahal mamanya sudah membujuknya, namun Rara tetap tidak mau.
Akhirnya Rara berangkat sekolah tanpa sarapan. Saat sampai di kelas ia menemui Vina dan menceritakan kembali mimpi
yang dialaminya. Tanggapan Vina pun sama dengan mamanya. Tak lama kemudian bel berbunyi, seluruh
murid berkumpul di lapangan. Mereka kembali mendengar pidato dari kepsek dan ketua pelaksana MOS. Murid murid
mendengarkan dengan khidmat. Begitupun dengan Rara. Saat sedang mendengarkan, ia merasa sedikit pusing, mungkin karena tadi
ia belum sarapan. Lama lama pandangannya kabur sebelum kemudian pingsan.
Saat membuka mata, ia bingung ada dimana. Ternyata ia berada di ruang UKS. Sementara Vina berdiri di sampingnya.
“Kamu tadi pingsan di lapangan,” ujar Vina tanpa ditanya.
“Syukurlah sekarang kamu sudah baikan. Sebentar aku belikan teh hangat di kantin….”
Rara ingin mencegah Vina. Namun temannya itu sudah langsung melesat ke kantin. Rasa takut karena teringat mimpinya
itu, kini menyergap Rara. Ya Allah, lindungi aku.
Namun baru sebentar memejamkan mata, Rara mendengar pintu terbuka. “Vin, kamu ya?” tanya Rara tanpa menoleh. Rasanya
kepalanya sangat berat. Rara mengulang pertanyaannya karena tidak ada jawaban. Kali ini Rara pun panik.
Apalagi ia mulai mencium bau amis seperti dalam mimpinya. Sementara secara perlahan
cat tembok UKS yang tadinya berwarna putih bersih mengelupas lalu muncul titik-titik lumut. Lama-lama lumut itu bertambah
banyak. Dengan sekejap ruangan UKS berubah menjadi seperti ruangan tua, persis seperti dalam mimpinya!
“Tolong jangan ganggu aku,” pinta Rara sambil menangis. Tiba-tiba ia melihat bayangan di balik gorden di depannya.
Bayangan itu sangat tinggi. Bau amis semakin jelas tercium. Bahkan Rara hampir muntah karena mual dengan bau amis
itu. Rara memberanikan diri bangkit meski tubuhnya masih lemas. Ia pikir pintu UKS akan sulit terbuka seperti dalam mimpinya.
Ternyata tidak. Ia keluar UKS mencari Vina.
Namun suasana sekolahnya sudah berubah. Warna catnya, pintunya, bahkan sekolah ini hanya ada 2 tingkat, padahal seharusnya ada 3 tingkat. Rara semakin panik dan berusaha mencari gerbang untuk keluar. Seharusnya sekolah ini ramai, tapi mengapa menjadi sepi begini, keluh Rara. Saat Rara sedang berjalan menuju gerbang, ia melihat Vina sedang berdiri. Ia
menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang.
“Vin, ayo kita pulang saja. Ada yang tidak beres dengan sekolah ini. Kamu lihat kan semuanya berubah?”
Namun Vina hanya menatap Rara. Wajahnya sedikit pucat. Tiba tiba, Vina menyeringai dan menatap Rara dengan
tajam. Wajahnya begitu menakutkan. Rara terkejut dan spontan berlari ke arah gerbang.
Begitu mencapai gerbang, ia menengok ke pos satpam di dekatnya dan melihat satpam yang kemarin dikenalkan oleh pembina MOS ada di situ. Namun dia tidak sendirian. Satpam lainnya yang bernama Sutoyo juga ada di situ. Rara terlonjak karena
muka keduanya sangat seram, berlumuran darah dan matanya sangat merah. Keduanya tengah menatap ke arahnya sehingga Rara
menjerit histeris dan langsung berlari keluar gerbang sekolah.
Braakkkkkkk…! Tubuh Rara dihantam mobil yang tengah melintas dengan kecepatan tinggi. Tubuh Rara melayang
sebelum kemudian jatuh di atas aspal. Kondisinya sangat mengenaskan. Rara tewas seketika. Vina yang sejak tadi mengejar Rara,
terpukau melihat pemandangan di depannya.
“Raraaaaaaaaaaaa…!!!” jerit Vina. Vina tidak kuasa melihat kondisi tubuh temannya yang hancur bermandikan darah.
Beberapa guru dan orang-orang yang melihat kejadian itu segera melakukan pertolongan dan melarikan tubuh Rara ke rumah sakit.
Namun semua sia-sia. Nyawa Rara sudah tidak tertolong lagi. Mama dan papanya yang datang ke rumah sakit langsung pingsan melihat kondisi anaknya. Sampai kemudian jasad Rara dibawa pulang dan dimakamkan,
mamanya masih sering pingsan.
Sebenarnya sudah banyak orang yang tahu jika sekolah itu sangat angker. Setiap tahunnya pasti ada siswanya yang tewas
dengan cara mengerikan, terutama pada saat MOS. Pada tahun 90-an sekolah ini juga pernah terbakar dan puluhan muridnya
tewas terbakar. Namun pemerintah merenovasi bangunan tersebut dan sekolah itu kembali berdiri. Sejak direnovasi tersebut,
banyak siswa yang mengalami kejadian aneh. Bahkan pernah terjadi kesurupan massal, sekitar 2 tahun lalu. Entahlah sampai
kapan semuanya terjadi. Semoga tidak ada korban lagi seperti Rara di tahun berikutnya.
Loading