Rabu, 11 Februari 2015

Menyingkap Mitos Pesugihan Gunung Kawi (oleh: Rafi Syahari)

GunungKawi di desa Wonosari,  Kecamatan Wonosari, Malang, Jawa Timur  dikenal sebagai tempat untuk ngalap  berkah. Yang paling sering terdengar adalah  sebagai tempat untuk mencari pesugihan.
Kabarnya ribuan tuyul pesugihan tersedia  di lokasi ini. Nyatanya, di lokasi ini justru dibangun tempat ibadah untuk semua  agama. Benarkah cerita tentang pesugihan  tuyul tersebut?

“Pesugihan mencari tuyul itu memang sering ditanyakan pengunjung ke juru kunci atau pengurus di lokasi makam gunung  Kawi ini. Namun sebetulnya sama sekali tak ada pesugihan tuyul di lokasi keramat ini,”
ujar Sukiman (56), salah seorang pengurus di komplek makam gunung Kawi.

Menurut lelaki yang bertugas di ruang kesenian wayang kulit ini, image yang  selama ini didengar masyarakat, yaitu tuyul pesugihan memang sangat kuat. Ia dan semua warga gunung Kawi juga heran
kenapa cerita tentang tuyul pesugihan itu justru lebih kuat daripada ziarah di makam keramat di atas gunung Kawi. Jika mendengar tentang gunung Kawi bayangan yang muncul selalu pesugihan tuyul, bukan
yang lain.

Di lokasi gunung Kawi sendiri secara
 resmi terdapat makam keramat. Yaitu makam dari Kanjeng Kyai 
Zakaria II dari kerabat keraton Kartosuro serta Raden Mas Iman Soedjono dari kerabat keraton
Yogyakarta. Di pusara dua makam inilah biasanya pengunjung datang untuk berziarah.
Karena kesaktian dua tokoh itu semasa hidupnya, banyak peziarah yang percaya bahwa berziarah di makam ini juga mendatangkan berkah tersendiri.

“Itulah sebab, banyak yang berziarah sekalian ngalap berkah di sini. Namun untuk jenis pesugihan tuyul sama sekali tidak ada. Bahkan semua peziarah yang kami layani biasanya adalah umat beragama yang taat
bersembahyang,” lanjut lelaki yang sering memimpin pentas wayang di komplek gunung Kawi.
Di lokasi atau kompleks makam gunung Kawi memang dibangun beberapa tempat ibadah. Mulai dari masjid, kelenteng atau wihara. Sehingga semua peziarah, mulai umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu,
Budha, biasanya menyempatkan diri untuk beribadah di tempat ibadah masing-masing itu. Baik sebelum atau sesudah berziarah mereka biasanya akan beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Pendatang
gunung Kawi juga sangat multi ras. Mulai Ras Jawa, Madura, Bali, sampai keturunan Tionghoa.

Malah dari dulu hingga sekarang pengunjung keturunan Tionghoa dikenal mendominasi dalam daftar
tamu pengunjung. Sehingga orang sering menyebut bahwa gunung Kawi adalah tempat favorit, bagi orang-orang bermata sipit untuk ngalap berkah. Dan kenyataannya memang demikian. Setiap malam Senin Pahing dan Jumat Legi selalu penuh dengan pengunjung dari keturunan Tionghoa.

Malam Senin Pahing dan malam Jumat Legi dipercaya merupakan hari kelahiran dari dua tokoh di makam keramat Gunung Kawi. Jadi kedua hari itulah yang dianggap paling penting atau paling sakral bagi 
pengunjung. Meskipun demikian di hari-hari lain selain kedua hari itu pun, pengunjung tetap berdatangan ke lokasi. Ini bukti bahwa kehebatan tuah gunung Kawi memang sangat kesohor dan begitu
melegenda dalam masyarakat.

Lantas bagaimana sebenarnya ritual berziarah atau ngalap berkah di gunung Kawi ini?
“Ritual ngalap berkah yang sesungguhnya biasanya dilakukan pada waktu malam hari sekitar pukul 21.00 ke
atas,” imbuh Sukiman.

Di siang hari atau sore hari sebenarnya banyak juga pengunjung yang datang untuk berziarah ataupun ngalap berkah. Namun bagi yang percaya tentang tuah gaib dari makam keramat di sini, memilih
waktu di malam hari. Dipercaya saat malam hari, keinginan pengunjung lebih banyak dikabulkan daripada siang ataupun sore hari. Pengunjung di siang ataupun sore hari biasanya berasal dari jauh, atau
belum mengenal kebiasaan di gunung Kawi dengan baik.

Setiap hari, terutama di malam hari puluhan pengunjung selalu datang silih berganti. Bahkan di malam Senin Pahing dan Jumat Legi bisa mencapai ratusan. Di bulan Suro, konon jumlah pengunjung bisa
mencapai ribuan per harinya. Sehingga lokasi parkir pengunjung dibangun atau ditambah hingga di desa paling bawah dari gunung Kawi.

“Ritual ngalap berkah bisa dilakukan pengunjung setelah kelambu penutup makam keramat dibuka oleh ketua dari juru kunci gunung Kawi,” terangnya.
Namun sebelumnya, petugas makam dan juru kunci mengadakan ritual pembuka terlebih dahulu. Ritual itu mereka lakukan terpisah dengan ritual dari para pengunjung. Ketua juru kunci biasanya akan dijemput sekitar pukul 21.00 malam.

Sebelum jam tersebut para cantrik atau anggota juru kunci yang biasanya menjemput akan tetap berada di kantor makam. Bahkan meskipun didesak atau dipaksa oleh pengunjung yang tidak sabar mereka tidak bergeming. Bahkan ketua juru kunci juga tidak bisa ditemui sekitar satu jam sebelum ritual dimulai. Konon, ia melakukan semedi satu jam sebelum ritual dimulai. Bagi pengunjung yang ingin menemui atau 
berkonsultasi dengan ketua juru kunci bisa menunggu hingga ritual selesai. Biasanya ritual selesai sekitar pukul 01.00 dini hari.
Setelah ketua juru kunci dijemput oleh para cantrik, maka pintu ruangan utama makam mulai siap untuk dibuka. Selama menunggu sang ketua dijemput, para cantrik atau petugas lain menyiapkan perlengkapan ritual. Diantaranya membakar dupa dan menyiapkan sesajian lain. Dupa itu diletakkan di beberapa titik atau sudut ruangan makam. Paling banyak di sekitar pusara makam. Secara resmi pengunjung dilarang membawa apalagi menyalakan dupa sendiri di ruangan makam.

Pengunjung hanya boleh membawa bunga untuk ritual tabur bunga di makam.
“Bunga yang dibawa pengunjung juga tidak boleh sembarangan, hanya boleh dibeli di dalam komplek makam Gunung Kawi,” terang Sukiman panjang lebar tentang aturan bagi pengunjung di lokasi
gunung Kawi.

Bunga-bunga itu memang didominasi oleh jenis mawar merah. Bunga dalam nampan besar biasa dijual Rp 5 ribu pada hari-hari biasa. Sedangkan nampan kecil dijual Rp 3 ribu. Pengunjung bisa membawa
bunga sekaligus nampannya sampai ke pusara makam. Nanti setelah ritual selesai nampan itu bisa ditinggal ke juru kunci.
Selanjutnya nanti si juru kunci sendiri yang akan mengembalikan nampan-nampan bunga itu pada penjual bunga di komplek makam. Nampan-nampan itu tidak pernah tertukar, karena ada kode khusus di
wadahnya masing-masing penjual. Setelah ketua juru kunci dijemput, mereka berjalan dan berbaris dalam posisi dua-dua. Paling depan adalah ketua juru kunci. Saat ini ketua juru kuncinya adalah pak Nanang (58). Dialah yang dipercaya juga menjadi ketua Yayasan Ngesti Gondo.

Yayasan inilah yang mengurus dan merawat segala hal yang berkaitan dengan komplek makam Gunung Kawi. Mereka berjalan berbaris tepat di depan tangga pintu utama ruangan makam. Di hari-hari biasa mereka hanya berjumlah 4 hingga 6 orang. Namun pada hari Selasa Pahing, Jumat Legi, ataupun bulan Suro bisa berjumlah hingga belasan orang. Masingmasing membawa wadah kecil berisi dupa yang sudah dibakar oleh petugas lain sebelumnya.

Setelah berhenti dan berdoa beberapa menit di depan tangga, ketua juru kunci membuka pintu. Kunci dan gembok pintu utama memang hanya bisa disimpan atau digunakan oleh ketua juru kunci. Sering pula
kunci itu dipasrahkan atau diserahkan pada juru kunci atau cantrik lain, jika sang ketua kebetulan tidak bisa bertugas atau ada halangan.

Setelah pintu dibuka rombongan cantrik dan ketua juru kunci berjalan masuk. Para cantrik akan menunggu dan mengawasi di sekitar pintu masuk. Baik pintu dari samping atau pun pintu utama ruangan makam. Sementara ketua juru kunci akan masuk ke dalam ruangan pusara makam.
Ia masuk melalui pintu samping di dalam ruangan. Di ruangan yang masih tertutup kain kelambu itu, ketua juru kunci kabarnya melakukan semedi terakhirnya dulu.

“Sekitar pukul 22.00 malam biasanya kelambu mulai dibuka oleh ketua juru kunci,” paparnya.
Selama menunggu kelambu akan dibuka itulah, pengunjung boleh memasuki ruangan utama makam. Sebelumnya mereka mencuci kaki dari air gentong di samping ruangan. Air dari gentong ini dipercaya bisa membuat mereka awet muda dan selalu banyak rejeki. Mereka boleh duduk di depan kelambu. Posisi
duduk mirip orang akan melakukan ibadah sholat. Ditata baris per baris per sof-nya.

Syarat bagi pengunjung yang akan masuk tidak boleh membawa kamera, kemenyan, dupa, dan pesawat HP harus dimatikan.
“Mereka hanya boleh membawa bunga serta berdoa di depan kelambu penutup pusara makam,” tuturnya.
Jadi selama kelambu belum dibuka, mereka hanya duduk-duduk dan berdoa. Mereka berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Sering kali terdengar pengunjung muslim melantunkan ayat-ayat Al-Quran.
Sementara pengunjung lain menimpali dengan menggumam doa dalam bahasa dan keyakinannya sendiri-sendiri. Cantrik yang lain mengawasi ketertiban pengunjung dari depan pintu-pintu ruangan.

Setelah kelambu resmi dibuka, maka pengunjung masuk ke ruangan depan pusara makam. Mereka dengan tertib maju sesuai barisannya masing-masing. Di ruangan itulah mereka kembali berdoa untuk yang terakhir kalinya dalam ritual ziarah sekaligus ngalap berkahnya. Setelah berdoa sekitar 5 hingga 15 menit mereka 
menaburkan bunga di pusara makam.

Setelah selesai tabur bunga, masing-masing pengunjung akan diberi semacam bingkisan oleh sang ketua juru kunci. Bentuk bingkisan itu adalah kain merah berhuruf cina yang berisikan dupa dan beberapa ubo rampe kecil. Bingkisan itu secara resmi hanyalah kenang-kenangan dari pengelola makam. Namun banyak
yang mengartikan bahwa bingkisan itulah letaknya tuah gaib yang berguna bagi pengunjung.
“Bagi yang percaya dengan tuah gaib itu, mereka akan menyimpan bingkisan itu dalam rumahnya masing-masing, atau menyimpan di ruangan yang mereka anggap akan memberikan tuah berkahnya,”
lanjut Sukiman.

Biasanya banyak yang menyimpan dalam toko, kantor, mobil, gudang, rumah, atau bahkan di dalam tas sehari-hari mereka. Mereka percaya bahwa bingkisan dari si juru kunci sudah mengandung tuah
gaib yang sangat ampuh. Sehingga bisa difungsikan untuk meraih keberuntungan seperti yang mereka harapkan saat berziarah dan berdoa ngalap berkah di makam gunung Kawi. Paling banyak memang difungsikan untuk berkah gaib kekayaan atau rejeki.
Jadi bisanya sering mereka taruh dalam toko, kantor atau ruangan usaha mereka masing-masing. Setelah mereka menerima bingkisan itu, mereka dimohon segera berjalan keluar lewat pintu samping yang
telah disediakan. Di ruangan itu memang ada petunjuk papan nama untuk jalur keluar.

“Setelah mereka keluar, posisi mereka akan segera digantikan oleh barisan pengunjung yang mengantri di
belakangnya,” urai lelaki yang lahir dan sejak kecil sudah hidup di dalam komplek makam gunung Kawi ini hingga sekarang.

Pengunjung di gunung Kawi tidak hanya percaya dengan tuah gaib dari kedua pusara makam keramat di ruangan utama. Mereka juga berusaha mencari tuah gaib berkah lain dari komplek makam.
Diantaranya ada sebuah pohon Dewandaru yang sangat dikenal tuah gaibnya. Yang unik dari pohon ini adalah, baik daun dan buahnya dipercaya mempunyai tuah gaib yang sangat ampuh. Tuah gaib itu bisa
digunakan secara langsung dalam ajian penglaris usaha.

“Baik daun atau buahnya bisa langsung digunakan untuk menyedot rejeki atau menglariskan usaha bagi siapapun yang memiliki,” terang Gus Ramli (50), seorang spiritualis asal Sumenep, Madura, Jawa
Timur pada Misteri. Pria yang sering berkunjung ke gunung Kawi ini mengatakan bahwa tuah dari daun
atau buah Dewandaru itu memang sudah banyak yang membuktikan. Bahkan tuah itu tidak perlu memakai ritual, doa, ataupun syarat-syarat khusus lainnya.

Pengunjung hanya cukup memiliki buah atau daun  Dewandaru tersebut. Dan menyimpannya
dimanapun mereka suka. Biasanya mereka memang banyak menyimpan di dalam dompet ataupun tempat kasir usaha mereka. Sering pula orang menyimpannya dengan membungkus daun itu dengan uang
kertas, setelah itu uang kertas disimpan dalam dompet atau tempat usaha.

Meskipun demikian ada syarat unik agar daun atau buah dari pohon dewandaru tersebut mengandung tuah gaib. Yaitu daun atau buah tidak boleh dipetik, atau dengan sengaja menggoyang-goyang pohon agar
daun atau buah berguguran di bawah. Siapa pun yang menginginkan tuah daun atau buah Dewandaru harus menunggu agar daun atau buah itu jatuh sendiri.

“Saat jatuh sendiri atau jatuh secara alamiah itulah mereka baru boleh mengambilnya untuk tuah atau ajimat
gaib penglarisan,” ujar lelaki yang dikenal mempunyai ratusan santri di Madura dan Malang ini.
Mengapa harus menunggu daun atau buah jatuh sendiri?
Menurut Gus Ramli, saat daun atau buah Dewandaru jatuh sendiri tersebut sebenarnya bukan benar-benar jatuh sendiri, atau jatuh karena keinginan alamiah pohon.
Melainkan dipercaya memang merupakan keinginan dari roh gaib dari tokoh makam keramat di Gunung 
Kawi. Jadi saat daun dan buah jatuh sendiri, daun itulah yang sebenarnya sengaja
dirontokkan atau dilemparkan oleh roh gaib dari makam keramat yang diziarahi.
Tidak setiap waktu daun dan buah bisa gugur atau rontok sendiri.

Hanya pada waktuwaktu tertentu saja bisa rontok. Hanya orang-orang atau pengunjung yang beruntung saja bisa mendapatkannya. Namun bagi yang tekun menanti kejatuhan atau rontoknya daun bisa pula
mendapatkannya. Tak heran setiap musim berziarah tiba, selalu banyak kerumunan pengunjung yang duduk, dan berdoa mengelilingi pohon Dewandaru itu.
“Mereka berharap agar bisa menemukan keberuntungan melihat daun jatuh dan segera mengambilnya. Bahkan sukur-sukur daun atau buah itu jatuh tepat mengenai kepala mereka,” ujarnya.
Daun atau buah yang jatuh tepat mengenai kepala pengunjung itu, biasanya dianggap berkah yang paling ampuh bagi pemilik kepala.

Keampuhan tuah gaibnya dianggap berlipat-lipat dibanding dengan menunggu daun atau buah jatuh di atas
tanah untuk kemudian baru mengambilnya. Bahkan daun dan buah yang jatuh tepat mengenai kepala tak perlu diambil atau disimpan, namun dipercaya tuah gaibnya sudah merasuk dalam diri orang yang
beruntung dijatuhinya.
Bisa diumpamakan, atau perbandingan keampuhan gaib antara yang jatuh ke tanah dan yang jatuh menimpa kepala bersangkutan. Jika daun atau buah yang jatuh sendiri ke tanah dan diambil bisa
mendatangkan penglarisan puluhan juta atau ratusan juta dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Namun jika buah atau daun itu menimpa kepala, maka hanya dalam hitungan hari bahkan beberapa
jam saja, tuah gaib rejeki itu sudah efektif berjalan.

“Pernah ada pengunjung yang kejatuhan buah saat baru datang di lokasi, padahal ia sendiri belum berniat untuk melakukan ritual ngalap berkah. Eh tiga jam setelah pulang ke rumah, tiba-tiba ia mendapat
keberuntungan sebesar milyaran rupiah begitu saja. Orang tersebut mendadak saja mendapat tawaran dana gratis sebesar Rp 3 milyar dari orang yang belum ia kenal sebelumnya,” ceritanya menceritakan 
pengalaman seorang pengunjung yang sangat dikenalnya.

Yang juga sangat aneh, pohon Dewandaru yang dianggap bertuah itu hanya ada satu jenisnya. Yaitu yang berada di luar, atau tepat di samping ruangan utama makam. Atau kalau dari tangga utama
masuk kompleks langsung menyambut pengunjung di teras atau halaman paling atas. Banyak pengunjung yang biasanya langsung mencari keberuntungan di pohon ini sebelum berdoa di pusara makam.

Pohon itu konon dari dulu hingga sekarang tingginya sekitar 3 hingga 4 meteran. Bahkan sebelum lokasi makam dipugar, keberadaan pohon itu sudah ada di antara pohon lain, sehingga dianggap
paling tua. Saat ditemukan memang hanya ada satu pohon tersebut. Kini batangnya seperti merumpun dan menyatu. Sedangkan daunnya tidak begitu rimbun, namun juga tidak begitu jarang. Agar tidak sering
diganggu pengunjung, terutama anak kecil, pohon diberi pagar persegi panjang yang tingginya melebihi postur orang dewasa.

Bahkan di pagar pohon itu diberi larangan bagi pengunjung untuk tidak memetik atau menggoyang pohon. Tak hanya larangan memetik daun, larangan lain seperti menyalakan dupa, memotret,
membuat gaduh juga dilarang keras. Dulu sebelum diberi pagar memang banyak pengunjung yang sengaja memetik dan menggoyang-goyang agar bisa mengambil daun yang gugur. Namun mereka kecele,
saat daun yang mereka dapatkan ternyata tidak bertuah sama sekali.

Kini setiap harinya lantai atau tanah di bawah pohon itu terlihat selalu bersih.
“Mungkin karena semua pengunjung yang datang selalu memungut daun atau buah yang jatuh,” timpal lelaki yang juga kerap dipanggil om Lili ini.
Padahal di halaman lain, atau di teras yang sama, masih ada beberapa pohon Dewandaru yang lain. Hanya saja pohonpohon lain itu tidak dianggap mempunyai tuah, meskipun ukurannya jauh lebih besar. Ini karena pohon-pohon itu dulunya masih kecil dan tumbuh normal menjadi pohon besar-besar hingga sekarang. Jadi
tidak dianggap istimewa oleh pengunjung.
“Sedangkan pohon Dewandaru yang bertuah itu dari sejak awal ditemukan hingga sekarang kondisi dan ukuran fisiknya sudah seperti itu, tidak lebih dan tidak kurang,” katanya lagi.

Ada juga beberapa pohon yang ukurannya jauh lebih kecil daripada yang di dalam pagar itu, namun juga tidak dianggap istimewa. Karena tidak dianggap istimewa maka pohon yang lain sebagian besar tidak diberi pagar karena tidak pernah diganggu pengunjung. Lantas mengapa pohon Dewandaru yang diberi pagar itu bisa istimewa dan mempunyai kekuatan gaib untuk penglaris atau rejeki?

Dari cerita legenda yang dipercaya masyarakat gunung Kawi dan sekitarnya, pohon itu dulunya bukanlah pohon sembarangan. Pohon itu dulu merupakan sebuah tongkat yang sengaja ditancapkan oleh tokoh Kyai Zakaria. Tongkat itu ia tancapkan untuk menandai wilayah gunung Kawi sebagai daerah aman atau bebas dari gangguan siapapun. Baik dari gangguan orang-orang jahat ataupun makluk-makluk
halus jahat yang sering mengganggu masyarakat gunung Kawi di kala itu.

Dari cerita itulah, hingga sekarang orang hanya percaya pada satu pohon Dewandaru itu saja. Sedangkan pohon lain dianggap merupakan bibit atau tumbuh baru. Karena yang dulu menancapkan tongkat adalah
tokoh sakti dari bangsawan Mataram, maka sampai kini pohon itu juga dianggap mempunyai tuah sakti. Dan nyatanya setiap hari pengunjung selalu memburu tuah saktinya untuk penglarisan dan rejeki, baik
dari daun atau buahnya yang berguguran.
Di sekitar makam Gunung Kawi memang dikenal sebagai gudangnya pusaka-pusaka
gaib, serta makluk-makluk halus yang bersemayan di pohon-pohon atau di sudutsudut halaman makam. Makluk-makluk halus itu, kabarnya bisa diajak kerja sama untuk lebih memperkuat ilmu kesaktian.
Bahkan bagi yang bisa melobinya, bisa mengajak kerja sama untuk memburu pusaka-pusaka gaib di lokasi. Pusakapusaka yang paling banyak dicari adalah yang berwujud keris dan tombak.
Akan halnya cerita tentang surganya tuyul pesugihan di gunung Kawi sendiri memang dibantah oleh semua pengurus atau juru kunci makam. Namun sebenarnya cerita itu memang bukan mitos belaka. 
Hanya saja pesugihan tuyul seperti yang dipercaya orang-orang letaknya bukanlah di dalam kompleks makam keramat gunung Kawi.

“Jika ingin mencari pesugihan dalam bentuk apa saja, termasuk tuyul bisa mencari di perkampungan sekitar 5 kilometer di atas komplek makam keramat gunung Kawi,” tutur Gus Ramli lagi.
Beberapa perkampungan yang masih satu kecamatan di sekitar makam gunung Kawi memang menawarkan layanan aneka pesugihan. Pesugihan itu tidak berpusat di makam keramat, punden, pohon, ataupun sendang keramat. Namun hanya dikelola oleh beberapa warga yang menjadikan
rumahnya sendiri sebagai tempat menjual pesugihan.

“Mulai pesugihan babi ngepet, tuyul, kera, buto ijo, dan lain-lain banyak disediakan oleh orang-orang di kampung atas komplek resmi gunung Kawi,” jelasnya.
Sehingga seringkali banyak orang yang tidak pengalaman, atau datang dari wilayah jauh tersesat masuk ke perkampungan pesugihan tersebut. Atau banyak juga yang memang dengan sengaja hendak mencari
pesugihan itu. Masing-masing rumah yang menyediakan jasa pesugihan tidak memasang tanda khusus di pintu rumahnya.
“Namun banyak broker atau pemandu yang berkeliaran di jalan untuk menyambut pendatang yang terlihat ingin mencari pesugihan itu,” jelasnya.
Atau bagi pengunjung yang sudah terbiasa atau membawa pemandu sendiri dari rumah bisa langsung mendatangi rumah yang menyediakan pesugihan itu.
Jasa yang menawarkan pesugihan ini mulai marak sejak makam gunung Kawi dikenal sebagai tempat ngalap berkah. Mereka menjaring pengunjung yang benar-benar ingin kaya secara cepat lewat
kerja pesugihan. Tentu saja pesugihan yang ditawarkan memang bersifat cepat, instant namun memakan tumbal nyawa.
“Bahkan saya pernah mengantar rekan yang dulu ingin mengadu nasib lewat pesugihan ala tumbal nyawa itu,” ceritanya mengenang.
Saat ia mengantar teman itu, ada sebuah rumah yang dituju berdasar referensi dari teman yang lain. Saat mengetuk pintu rumah, akan ada sahutan dari dalam berupa pertanyaan lantang. Bunyinya kira-kira,
“Apakah anda kafir atau muslim?”
Jika tamu yang mengetuk menjawab kafir, tuan rumah biasanya akan langsung mempersilakan tamu untuk masuk. Namun jika dijawab muslim, tuan rumah akan segera menyuruh tamunya pulang. Jadi ada kepercayaan, bahwa ilmu pesugihan itu hanya berlaku untuk orang-orang selain muslim. 
Dengan kata lain ilmu pesugihan akan langsung menguap dengan sendirinya jika bersentuhan atau bersinggungan dengan ritual agama muslim. Misalnya sholat, mengaji, puasa muslim, ucapan syahadat,
dan lain-lain.
Sebenarnya apapun agamanya, termasuk jika kebetulan tamu itu seorang muslim, namun jika dijawab kafir, tamu tetap akan dipersilakan masuk. Setelah masuk, tamu akan ditutup kedua matanya oleh pemilik
rumah. Kemudian tamu akan dibawa ke sebuah kolam. Setelah matanya dibuka, tamu akan diberi sebuah parang atau pedang yang sangat tajam.
Tamu akan ditunjukkan bahwa di kolam itu ada seorang anak kecil. Anak kecil itu biasanya merupakan perwujudan dari kerabat, family, atau anak dari tamu yang bersangkutan. Jadi wajah anak kecil itu
memang sama dengan kerabat atau anak di rumahnya yang tidak diajak. Selanjutnya tamu akan disuruh tuan rumah memenggal atau menebas kepala anak kecil yang berada di kolam di hadapannya.
“Jika si tamu mau menebas kepala anak itu, berarti ia sudah menyatakan setuju dengan kontrak perjanjian pesugihan nantinya.
Dengan kata lain jika tuah pesugihan nanti sudah berjalan, maka sewaktu-waktu nyawa anaknya diambil oleh gaib pesugihan, maka si pemilik harus rela, alias tidak bisa menghindar lagi,” ulasnya.
Jika ia setuju, maka ritual pesugihan segera dilakukan. Mulai pesugihan babi ngepet, tuyul, kera, atau yang ditawarkan oleh pemilik rumah. Namun jika saat disuruh memenggal kepala si bocah dalam kolam
tamu akan menolak, maka kontrak dianggap batal. Dan si tamu disuruh pulang oleh pemilik rumah.
Saat keluar pun matanya juga ditutup lagi oleh pemilik hingga halaman rumah baru boleh dibuka. Namun jika ia setuju dengan kontrak pesugihan, maka matanya tak perlu ditutup lagi saat keluar rumah untuk
pulang. Berdasar pengalaman beberapa pelaku pesugihan banyak perkampungan di atas makam gunung Kawi yang masih mempraktekkan bisnis pesugihan itu.
“Malah mekanisme serta kontrak perjanjian gaibnya juga lain-lain antara rumah yang satu dengan rumah yang lain.
Namun intinya, bagi siapapun, dan apapun bentuk pesugihannya tetap akan meminta tumbal nyawa sebagai syarat wajib ilmu pesugihan itu. Jadi bagi pengunjung harap berhati-hati, jangan sampai tersesat masuk
ke perkampungan itu,” ujarnya sembari memberikan nasehat.

Pernah dimuat di Majalah Misteri cetak no.575
Loading