Kamis, 29 September 2011

TUJUH MALAM BERBULAN MADU DENGAN KUNTILANAK

Kisah mistis ini sungguh-sungguh terjadi di Kota Stabat. Menimpa seorang penarik bemor (becak motor) bernama Karto. Selama 7 malam dia berbulan madu dengan kuntilanak. Apa akibatnya...?

Kota Stabat, Ibu Kota Kabupaten Langkat, Sumut, di penghujung bulan Mei, terlihat sangat sepi. Kendaraaan roda dua dan roda empat yang biasanya hilir mudik melintas di tengah kota, malam itu tidak kelihatan. Sejak senja hingga larut malam, gerimis memang turun membasahi jalan raya. Mungkin karena itu warga kota dan warga yang tinggal di pinggiran kota memilih tetap tinggal di rumah.
Di tengah gerimis berselimut udara dingin menggigit sum-sum, para pedagang di pasar kaget terlihat duduk menemani beberapa orang pengunjung warungnya. Biasanya, di saat udara cerah, para pedagang itu tidak punya waktu berbincang-bincang dengan pengunjung warungnya. Mereka sibuk melayani pengunjung warung yang datang dan pergi silih berganti. Namun kali ini suasananya menjadi lain. Mereka nampak larut dalam perbincangan.
Malam itu, menurut penanggalan Jawa, adalah malam Jum'at Kliwon. Malam yang diyakini angker, karena sering terjadi peristiwa misteri dan irasional. Namun, di zaman sekarang malam keramat itu sudah dianggap tidak lagi menakutkkan. Lihat saja, kendati gerimis masih turun, para abang-abang becak tetap mencari sewa tanpa memperdulikan keangkeran malam Jum'at Kliwon.
Salah satu dari penarik becak bermotor itu adalah Karto. Meskipun malam Jum'at Kliwon dan hujan gerimis tidak juga berhenti, dia tetap mencari sewa. Karto bersama beberapa orang temannya mangkal di simpang kompleks Kantor Bupati Langkat. Mereka duduk di warung sambil menunggu sewa yang turun dari bus jurusan Banda Aceh-Medan.
Segelas kopi hangat yang Karto minum tidak dapat mengusir udara dingin. Meskipun jaket sampai dua lapis membalut tubuh, angin malam dapat menembus hingga ke sumsum tulang.
Malam baru pukul 23 lewat 15 menit. Kota Stabat yang biasanya ramai menjadi sunyi seperti kota mati. Karto tetap setia menanti calon penumpang becak bermotornya. Sebuah bus jurusan Banda Aceh-Medan berhenti. Seorang perempuan memakai baju kuning turun dari atas bus yang basah kuyup diguyur hujan itu.
Sambil menenteng paying di tangannya, wanita berbaju kuning gading itu berdiri di pinggir jalan, menanti kendaraan yang lewat. Dia melambaikan tangan kanannya ke arah Karto. Bergegas Karto menghidupkan becak bermotornya. Dan segera menghampiri si wanita. Dalam hati Karto kegirangan, sebab jarang sekali dia dapat sewa perempuan cantik seperti malam ini.
"Becak, Bang!" Ujar perempuan itu dengan suara lembut.
Karto tan sempat menyahut, sebab mulutnya seperti terkunci melihat betapa cantik si perempuan calon penumpangnya itu. Sang Dewi pun segera naik ke atas becak. Darah Karto tersirap ke ubun-ubun, sebab secara tak sengaja rok pendek yang dipakai perempuan itu tersingkap, sehingga terlihat pahanya yang putih mulus. Berulang kali Karto harus menelan air liurnya.
"Kemana tujuannya, Dik?" Tanyanya sambil menehan gejolak dalam dada.
"Ke Desa Ulat Berayun," jawab si wanita.
Karto segera tancap gas menuju alamat yang disebutkan. Tapi anehnya, baru sekitar 15 menit Karto memacu betor (becak motor)-nya, tiba-tiba dia merasa berada di tempat yang sangat asing baginya. Ya, Karto seperti memasuki kota metropolitan yang sangat megah. Kendaraan mewah hilir mudik dan perempuan-perempuan cantik keluar masuk plaza. Seingat Karto, tidak ada plaza-plaza yang mewah seperti itu, bahkan mobil-mobil yang hilir mudik juga sepertinya sangat asing di matanya.
"Rumahnya masih jauh, Dik?" Tanyanya sambil terus memikirkan keganjilan yang dihadapinya..
"Di ujung jalan sana, Bang!" Jawa si gadis dengan suara lembut dan manja, yang perlahan namun pasti seperti membius Karto.
"Berhenti di sini, Bang!" cetusnya lagi.
Karto menghentikan becak motornya di depan rumah megah bagaikan sebuah istana. Halamannya luas ditumbuhi rumput hijau dan bunga aneka warna. Bagian teras rumah itu dihiasi lampu kristal yang sangat wah.
"Singgah ya, Bang, nanti aku buatkan minuman badrek susu," ajak gadis itu ramah.
Karto tidak dapat menolak ajakan itu, sebab si gadis telah bergayut mesra di pundaknya. Kebetulan, udara dingin begini meminum bandrek susu pasti dapat menghangatkan badan. Di samping itu, jarang sekali dia mendapat tawaran sebaik ini dari seorang penumpang. Apalagi dari gadis yang cantiknya selangit. Begitulah bisik batin Karto.
Sementara Karto masih sibuk mengendalikan perasaannya, perempuan misterius itu mengambil anak kunci rumahnya dari dalam tas tangan yang disandang di bahunya.
Tak lama kemudian, pintu depan rumah nan megah itu terbuka. Karto dipersilahkan duduk di ruang tamu yang tertata sangat artistic, sehingga membuat terus terbengong-bengong. Perabotan rumah tangga di dalam ruangan tamu itu seluruhnya terbuat dari kayu jati yang ukirannya sangat indah.
"Duduk sebentar ya, Bang, aku ke dapur menyiapkan minuman buat Abang," kata si gadis. Suaranya sangat lembut dan manja. Karto hanya bisa mengangguk. Dia terus terkagum-kagum melihat perabotan dalam rumah serba mewah dan megah itu. ìPastilah gadis ini anak orang kaya, karena rumahnya saja bagaikan istana raja.î Bisik hati Karto lagi.
Pria beranak satu ini lebih kagum lagi saat dia menatap perempuan pemilik rumah datang membawa dua gelas minuman, yang telah berganti baju setengah telanjang. Lekuk tubuhnya terlihat nyata di mata Karto. Perempuan itu hanya tersenyum menggoda. Ketika menyuguhkan gelas berisi bandrek susuk, Karto dapat melihat leluasa dua bukit kembar tegak berdiri runcing di dadanya yang montok. Perempuan itu lagi-lagi hanya tersenyum menggoda.
"Malam ini Abang menginap di rumahku saja ya? Aku takut sendirian di rumah Bang!" Rengeknya manja.
"Kedua orangtuamu kemana?" Tanya Karto, agak gugup.
"Sudah meninggal dunia, Bang. Ayah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, dan ibuku meninggal bunuh diri," cerita si gadis.
ìOooÖ!î Karto melongo, sampai akhirnya perempuan manja itu bersandar di pundaknya. Sekejap kemudian, jari-jemarinya yang lembut menyelusuri pusat-pusat birahi di tubuh Karto.
Laki-laki mata keranjang ini pun tak kuasa untuk tidak membalas sentuhan itu. Dia bahkan melakukannya dengan lebih agresif. Syahwatnya menuju puncak.
"Bang, kita melakukannya di dalam kamar saja ya?" Ajak si gadis sambil segera melepaskan dekapannya. Karto hanya menurut saja.
"Gendong, Bang!" Rengek gadis itu, manja.
Karto menuruti saja keingiannya. Tubuh sintal padat dan berisi itu dibopongnya.
"Kamarnya di mana?" Tanya Karto. Kamar dalam rumah itu memang ada beberapa pintu.
"Nanti aku kasih tahu," jawab si gadis.
Karto berjalan mengikuti perintah si gadis, yang memintanya menuju ruangan di lantai dua. Kamar di lantai dua ini lebih mewah lagi. Karto terkagum-kagum melihat ruangan kamar yang sangat indah dan megah, seperti kamar seorang puteri raja. Di sana ada tempat tidur terbuat dari kayu jati pilihan berukir burung raja wali yang sedang mengepakkan sayapnya. Cahaya lampu dalam kamar itu remang-remang, bau aroma wangi memenuhi seluruh ruangan yang di desain untuk pasangan pengantin baru.
"Nama adik siapa?" Tanya Karto, penasaran. Begitu terpesonanya, sampai dia lupa menanyakan nama perempuan cantik yang mengajaknya bercinta.
"Sri Kunti," jawab si gadis manja.
"Namaku Karto!" Sahut Karto, tanpa diminta mengenalkan dirinya.
Sempat terlintas dalam benak Karto kalau nama perempuan ini aneh, tidak seperti nama kebanyakan perempuan. Tapi apa arti sebuah nama. Bisik hatinya. Karto sudah tidak sabar ingin segera melepaskan nafsu birahinya.
"Jangan buru-buru, Bang. Sabar sebentar," pinta Sri Kunti.
"Aku sudah tidak tahan!"
"Tapi kita harus menikah dulu?"
"Siapa yang akan menikahkan kita?"
"Itu orangnya!î Sri Kunti menunjuk ke ruangan tengah rumahnya dari atas lantai dua.
Aneh, di ruangan itu sudah ramai orang berkumpul. Mereka semua memakai baju bagus seperti hendak menghadiri resepsi pernikahan.
Ketika Karto masih kebingungan, Sri Kunti turun dari atas lantai dua. Dia berjalan menggandeng tangan Karto. Bersamaan dengan itu, Karto melihat busana yang dipakai Sri Kunti telah berubah menjadi busana pengantin berwarna putih. Padahal sebelumnya, gadis itu mengenakan gaun sutra yang transparan.
Ah, aneh sekali! Mengapa bisa begini cepat? Keraguan ini sempat terselip di batin Karto. Namun entah mengapa, dia kemudian tidak berusaha mempersoalkannya.
Karto sendiri bertambah bingung, sebab dirinya juga telah memakai baju jas berwarna hitam dan memakai dasi. Padahal sebelumnya, dia berpakaian lusuh, dengan jeans belel kesayangannya.
Akhirnya, mereka berdua menghadap petugas yang akan menikahkannya. Akad nikah yang Karto laksanakan tidak seperti waktu dia dulu menikah dengan Atik, isterinya yang selalu setia menunggu di rumah. Karto cukup hanya mengucapkan ikrar setia setelah itu resmilah mereka sebagai pasangan suami isteri.
Setelah resepsi, pernikahan selesai, semau tamu yang datang pergi meninggalkan rumah. Kini tinggal mereka berdua di dalam rumah besar itu.
Hujan gerimis berubah menjadi sangat deras. Udara dingin menusuk tulang. Karto membutuhkan kehangatan. Sri Kunti pun sama membutuhkannya.
"Sekarang kita sudah resmi sebagai pasangan suami isteri. Silahkan Abang menikmati tubuhku," kata Sri Kunti. Sehelai demi sehelai kain pembalut tubuhnya dia buka, sehingga akhirnya tampaklah pemandangan yang membuat lutut Karto gemetar.
Pasangan yang barusan melangsungkan ikrar hidup berdua itu tak sabar menikmati malam pertamanya. Karto menggendong tubuh Sri Kunti memasuki kamar tidur yang telah dipersiapkan untuk mereka berdua.
Tubuh sintal itu dia baringkan di atas kasur empuk. Permainan birahi segera mereka lakukan. Kedua pasangan pengantin baru ini berpacu menuju puncak birahi. Tak ada lagi kata-kata yang terucap dari bibir keduanya. Masing-masing berkonsentrasi menuju finish. Keduanya berlari sama-sama kencang dan sama-sama binal seperti kuda liar sumbawa. Desah nafas kenikmatan keduanya seirama dengan goyangan tubuh Sri Kunti.
Karto merasakan puncak kenikmatan yang tiada tiara. Selama ini, setiap dia berhubungan intim dengan isterinya selalu terasa hambar. Demikian pula ketika dia melakukannya dengan PSK. Karto merasakan kenikmatan biasa-biasa saja. Tapi pada malam ini dia merasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa.
Biasanya setelah dua kali Karto memuntahkan rudalnya, tubuh pasangannya lemas. Berbeda dengan Sri Kunti, meskipun permainan di atas tempat tidur sudah berlangsung selama hampir dua jam, stamina tubuhnya masih stabil. Berbeda dengan Karto, dia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan permainan. Dia menyerah kalah.
"Ayo lanjutkan lagi, Bang!" Pinta Siri Kunti, menantang.
"Aku sudah tidak sanggup, Sri!" Jawab Karto, menyerah.
"Biasanya Abang tak pernah menyerah?"
"Kaulah satu-satunya perempuan yang dapat menaklukkanku. Kau hebat Sri!" Puji Karto. Sri Kunti hanya tersenyum mendapat pujian ini.
"Kapan kita ulangi lagi, Bang?"
"Besok malam."
"Abang tidak pulang?"
"Untuk apa aku pulang. Isteriku di rumah tidak dapat memberikan kepuasan. Berhubungan intim dengannya sama dengan memeluk bantal guling. Tidak ada rasanya!" Karto mengeluh tentang isterinya, yang usianya memang lebih tua lima tahun dengannya.
"Malam sudah menjelang subuh. Kita tidur ya, Bang!" Bisik Sri Kunti. Karto hanya mengangguk.
Keduanya segera memejamkan mata. Karena tubuh mereka sudah sangat letih, sebentar saja mereka sudah lelap tertidur pulas. Dan mereka melewatkan waktu yang sangat panjang dalam tidur itu.
Menjelang senja, Karto baru terbangun dari tidurnya. Lampu di dalam rumah sudah menyala semuanya. Sementara itu, Sri Kunti barusan saja mandi sambil keramas. Rambutnya yang panjang hingga pinggul masih terlihat basah. Tubuh Karto masih terasa lemah. Seluruh sendi-sendi tulangnya terasa mau copot semua.
"Mas mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat dan handuk dalam kamar mandi," perintah Sri Kunti.
Karto menuruti saja perintah Sri Kunti. Dia segera mandi di sebuah kamar mandi yang sangat mewah, sehingga lagi-lagi Karto tak henti menangguminya. Dia pun merasa seperti mendapat durian runtuh. Tinggal di rumah mewah, dengan isteri yang cantiknya selangit.
Selepas mandi, di meja makan, Sri Kunti sudah menyiapkan hidangan santap malam. Mereka berdua menikmati hidangan makan malam.
Setelah selesai santap malam, Sri Kunti mengajak Karto ke taman belakang rumah. Mereka berdua bercenngkerama sambil bermain ayunan.
"Sri, permainan kita lanjutkan di dalam rumah saja ya!" Ajak Karto yang sudah tidak sabar ingin segera melampiaskan nafsu birahinya. Sri Kunti hanya mengangguk.
"Gendong, Bang!" Rengeknya manja.
Permintaan Sri Kunti ini tidak dapat ditolaknya. Karto membawa Sri Kunti masuk ke dalam kamar tidur. Kain seprai sudah diganti dengan yang baru. Tubuh perempuan yang digendongnya dia baringkan di atas kasur empuk.
Mereka segera berlari menuju ke puncak birahi. Permainan malam kedua ini lebih hebat dan lebih gila. Mereka baru mengakhiri permainan ranjangnya menjelang subuh. Keduanya terkapar lemah tidak berdaya. Mereka pun kembali tertidur lelap.
Menjelang senja, Karto lagi-lagi baru terjaga dari tidurnya. Demikian yang terjadi seterusnya. Setiap hari Karto menjalani runitias seperti itu. Bercinta sampai larut, tertidur pulas, dan baru terjaga ketika hari telah senja. Karto sama sekali tidak pernah mengetahui kehidupan di siang hari. Semua aktivitas hidup di dunia lain tempat Sri Kunti tinggal menetap sepertinya hanya berlangsung pada malam hari. Kampung tempat Karto kini tinggal sepertinya hanya muncul menjelang senja hingga subuh. Siang hari kampung itu tidak pernah ada....
***

Sudah lima hari, Karto tidak pulang ke rumah. Informasi yang diterima Atik, isterinya menyebutkan bahwa malam Jum;at kemarin, suaminya mengantarkan perempuan cantik. Setelah mengantarkan perempuan itu Karto tidak pulang ke rumah.
Atik sudah mencari Karto ke mana-mana, tapi tidak juga ditemukan. Bahkan Karto. Karena takut terjadi sesuatu pada diri suaminya, Atik bahkan sudah melaporkan kasus hilangnya Karto pada politi.
Beragam prediksi muncul akibat menghilangnya Karto. Ada yang berpendapat barangkali perempuan yang diantarkan Karto itu adalah anggota sindikat perampok.
Namun, Atik tidak yakin suaminya dirampok. Nalurinya mengatakan, suaminya yang mata keranjang itu tengah bersenang-senang dengan perempuan cantik yang diantarkannya. Apalagi, beberapa tahun lalu, Karto pernah sampai tiga hari tidak pulang ke rumah setelah mengantarkan sewa seorang perempuan cantik. Ternyata Karto tinggal serumah bersama perempuan itu.
Teman-teman satu profesi dengan Karto ada yang menyarankan untuk minta bantuan dukun untuk mengetahui di mana Karto berada. Saran itu dituruti Atik. Dengan diantar adiknya, Atik mendatangi rumah Mbah Katijo, dukun kampung yang tidak diragukan lagi kemampuannya.
Dihadapan Mbah Katijo, Atik menceritakan tentang suaminya sudah lima hari tidak pulang ke rumah.
"Suamimu sedang berbulan madu," kata Mbah Katijo, menjelaskan.
"Dengan siapa dia menikah, Mbah?" Tanya Atik sambil menahan geram. Dalam hati, dia mengumpat habis-habisan suaminya. Padahal dulu Karto sudah bersumpah tidak lagi berselingkuh. Kini dia ulangi lagi.
"Dia menikah dengan perempuan dari dunia lain."
"Siapa perempuan itu, Mbah?" Atik menjadi penasaran.
"Dia bangsa kuntilanak!"
Mendengar Mbah Katijo menyebut nama kuntilanak, bulu roma Atik merinding. "Apakah suamiku masih bisa pulang, Mbah?" tanyanya sambil menahan tangis.
"Bisa, tapi sabarlah. Biasanya acara bulan madu bersama kuntilanak dari dunia lain berlangsung tidak lebih dari tujuh hari," kata Mbah Katijo, menjelaskan.
Berarti dua hari lagi Karto baru pulang ke rumah?
***

Memang aneh, memasuki malam ketujuh, Karto berpamitan pada Sri Kunti hendak pulang ke rumahnya. Entah bagaimana, tiba-tiba Karto merasakan kerinduan teramat berat pada keluarganya, pada Atik, isterinya, juga pada Dimas, anaknya yang baru berusia lima tahun.
"Sri, aku mau pulang ke rumah, nanti aku kemari lagi!" Katanya berjanji.
"Bukankah Abang sudah berjanji ingin hidup bersamaku?" Protes Sri Kunti, mengingatkan.
"Tapi aku punya keluarga!"
Sri Kunti diam beberapa saat lamanya. Lalu, dengan tenang dia berkata, "Pulanglah, Bang. Keluarga Abang di rumah paati menanti Abang pulang."
Sri Kunti melepas kepergian Karto dengan linangan air mata. Dia mengantarkannya hingga ke depan pekarangan rumahnya. Karto menyelusuri jalan raya di dunia maya yang membingungkan itu. Aneh, ketika karto tiba di sebuah persimpangan jalan, kota itu hilang secara misterius. Becak bermotornya yang dikemudikan mendadak mati mesinnya. Setelah diperiksa, bensinnya habis.
Malam sudah menujukkan pukul dua dini hari. Suasana di sekitar begitu sepi. Di sebelah kiri jalan, Karto melihat hamparan kuburan umum. Ratusan orang dikubur di sana. Bulu kuduk Karto berdiri meremang. Badannya mendadak lemas.
Perkampungan warga sekitar satu kilometer lagi. Karto tidak sanggup mendorong becaknya. Tubuhnya sangat lemah. Seluruh sendi-sendi ototnya rasanya copot. Akhirnya, Karto memutuskan tidur dalam becaknya.
Pagi hari, ketika dia terjaga dari tidur pulasnya, orang-orang ramai berada di sekelilingnya. Dia mencoba untuk bangkit dari atas becak, tapi usahanya sia-sia. Tubuhnya sangat lemah sehingga tidak dapat digerakkan. Teman-teman satu profesi yang kebetulan kenal dengannya, akhirnya mengantarkan Karto pulang ke rumahnya.
Mengetahui berita Karto pulang, warga di sekitar tempat tinggalnya, berbondong-bondong ke luar dari rumah. Dalam tempo sekejap rumah Karto ramai seperti ada pertujunkkan dangdut. Bertubi-tubi pertanyaan pun di arahkan kepadanya. Namun, Karto lebih banyak diam. Penampilannya berubah dari biasanya. Karto yang biasanya ceria, kini berubah seperti orang bingung.
Hari berikutnya, Mbah Katijo menemui Karto. Semua yang diceritakan dukun kanpung ini dibenarkan Karto. Atik menjadi emosi mendengarnya dan api cemburunya tidak dapat dipadamkan. Dia tidak sudi lagi menerima Karto, sebab sudah bersebadan dengan makhluk halus.
Atik akhirnya pergi membawa anaknya ke rumah orang tuanya. Tinggallah Karto seorang diri dalam keadaan lumpuh total. Kini, dia hidup dari belas kasihan orang-orang yang dekat dengannya.
Loading