Minggu, 04 Desember 2011

UJI NYALI DI RUMAH TUA

 Malam sudah begitu tua, ketika kami berlima memasuki sebuah rumah di jalan Panglima Denai. Rumah itu elit namun terkesan kumuh. Setiap harinya, rumah itu digunakan sebagai tempat service bus antar kota antar propinsi. Kunjungan ini bermula karena rasa penasaran yang begitu menghentak, apabila melintasi rumah itu malam hari. Gelap, mencekam dan terasa begitu kental aroma mistiknya.

Setelah membawa bekal ritual penghadiran jin, pada dinihari acara penghadiran jin itu pun kami lakukan. Kami pun melompati pagar rumah itu. Srepp…srepp…sreppp. Kami berlima masuk ke dalam.

Suasana hening dan mencekam langsung menyambut. Sesaat kemudian, kami pun membakar kemenyan, apel jin, dan hio. Kami berlima berjongkok. Saling pandang.

"Hei Jin penunggu tempat ini, hadirlah, kami ingin berkenalan," ujar saya diikuti rekan-rekan lainnya.

Sesaat kemudian, angin semilir tiba-tiba bertiup. Diikuti seberkas sinar putih. Melayang-layang di udara. Seketika suasana tiba-tiba tak bersahabat.

"Dia datang, dia datang, dia datang," teriak Hasman salah seorang dari rekan kami.

"Tenang, tidak apa-apa," ujar saya menenangkannya. Tapi itu tak lama, Hasman kemudian kejang-kejang. Ia pun jatuh pingsan.

"Hasss…Hasmannn," teriak kami bersamaan. Sinar putih yang melayang-layang itu kemudian menempel ke muka pria lajang ini.

"Hiiiihiiiii, siapa kalian," ujarnya dengan suara yang tiba-tiba berubah jadi perempuan.

"Maaf, kamu siapa," tanya saya dengan hati-hati."Ada apa kalian memanggilku heee, aku memang tinggal disini, apa maksud kedatangan kalian," tanya perempuan yang memasuki raga si Hasman. "Maafkan atas kelancangan kami, tapi kami hanya ingin kenalan dengan penunggu gaib disini," jawab saya kemudian.

"Hihihihihi, begitu rupanya, terimakasih atas suguhan sesajennya," katanya kemudian. "Hai Jin, siapa namamu ha ?" "Namaku Nurhayati. Sejak tahun 1950 aku berdiam disini, aku sekarang tinggal di sumur di rumah ini," "Khabarnya kamu suka menganggu para pekerja bengkel disini"

"Hihihihi, ya aku suka sekali menganggu orang yang suka zinah dan minum alkohol !. Aku benci melihat manusia seperti itu. Tuhan telah memberinya akal dan pikiran tapi masih melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri," jawab Jin Nurhayati kemudian.

"Kami ingin melihat wujud aslimu. Tinggalkan jasad teman saya ini," Tawanya seketika melengking, memecah kesunyian malam. "Lihatlah wajah asli saya dekat bus sana, itulah saya," katanya kemudian.

Sesaat kemudian, teman saya Hasman terdiam. Lama sekali. Ketika kamera saya merekam didekat bus, memang benar, terlihat ada seperti bayangan putih. Berseliweran. Kemudian menipis dan hilang sama sekali.

Hasman yang tadi dijadikan sebagai mediator terlihat mulai sadarkan diri.
"Dimana aku, sakit kali badanku woiiii," katanya sambil meringis. Setelah mengguyur badannya dengan air mineral, ia pun bisa bangkit. Menjelang fajar kami pun meninggalkan rumah tua itu. Terimakasih jin Nurhayati atas sambutannya.
Loading